HADITS
MENURUT MUSTHAFA AL-SIBA’I DAN AHMAD AMIN
(Suatu
Kajian Komparatif)
Khairullah
ABSTRAK
Keyakinan umat Islam terhadap posisi dan otentisitas hadits
atau sunnah pada masa Nabi SAW tidak terdapat persoalan, karena jika mereka
menemukan sesuatu yang meragukan atau yang belum jelas bisa langsung melakukan
konfirmasi kepada Nabi SAW. Lain halnya pasca wafatnya beliau sampai sekarang,
problematika hadits sudah sedemikian rupa, yang berujung kepada terbukanya
tabir untuk melihat keberadaannya sebagai otoritas keagamaan. Seperti halnya
dilakukan oleh Ahmad Amin dalam bukunya Fajr al-Islam, yang melakukan kritik
terhadap beberapa hal tentang hadits. Menurutnya, orisinalitas hadits pasca
wafatnya Nabi SAW patut dipertanyakan. Sementara Musthafa al-Siba’I melakukan
counter terhadap pemikiran Ahmad Amin dengan mengemukakan bukti-bukti historis
orisinalitas hadits. Dalam pandangan Musthafa al-Siba’I, kiritk Ahmad Amin
terhadap hadits kurang didasari oleh argumentasi yang kuat, bahkan argumentasi
yang dibangun lebih bersifat asumtif, generalisasi dan tekstual.
KATA
KUNCI: Hadits, Musthafa al-Siba’I, Ahmad Amin