REORIENTASI
WACANA PENAFSIRAN
AYAT-AYAT
TENTANG PEREMPUAN
Siti Masykuroh
ABSTRAK
Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran
Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara laki-laki maupun perempuan,
dan antara bangsa, suku dan keturunan. Banyak ayat al-Qur’an telah menunjukkan
bahwa laki-laki dan perempuan adalah semartabat sebagai manusia, terutama
secara spiritual. Al-Qur’an menyajikan topik perempuan dalam banyak ayat dan
berbagai surat. Namun yang paling banyak adalah dalam surat an-Nisa’, di samping
itu surat at-Thalaq sebagiannya juga menyajikan masalah perempuan.
Meskipun secara normatif al-Qur’an
memihak pada kesamaan status antara laki-laki dan perempuan, tetapi secara
tekstual al-Qur’an memang menyatakan adanya kelebihan tertentu laki-laki daripada
perempuan, akan tetapi dengan mengabaikan konteksnya –sebagaimana dikemukakan
Asghar Ali- tidak ada kitab suci yang bisa efektif, jika mengabaikan konteksnya
sama sekali. Al-Qur’an adalah kitab suci yang keberadaannya abadi, penafsiran
terhadapnya tidak bisa dihindari sebagai sesuatu yang relatif
Tulisan ini bukanlah merupakan gugatan
terhadap teks-teks suci al-Qur’an itu sendiri, melainkan penafsiran terhadap
teks-teks tersebut yang sangat tekstual, dan kurang mementingkan konteks
sosial, bahkan dalam beberapa hal sangat dipengaruhi oleh bias dominasi
laki-laki terhadap perempuan. Reorientasi terhadap penafsiran yang cenderung
mendiskreditkan perempuan adalah sesuatu yang niscaya karena perempuan bukanlah
makhluk nomor dua yang keberadaannya hanya sekedar sebagai pelengkap kaum
laki-laki.