METODE BUKHARI DALAM AL-JAMI’
AL-SHAHIH
(Tela’ah atas Tashhih dan Tadh’if
menurut Bukhari)
Masrukhin
Muhsin[1]
Abstrak
Bukhari adalah satu-satunya ahli hadits yang sangat
hati-hati dalam menerima hadits, karena ia dikenal sangat teliti dan ketat
dalam menverikasi hadits (al-Tashih wa al-Tadh’if). Baginya tidak cukup
dikatakan sebuah hadits itu shahih jika tidak menjumpai langsung (al-Liqa’)
dengan sumber asalnya (rawi atau gurunya). Metode yang dikembangkan Bukhari
demikian menjadikan karya tulisnya al-Jami’ al-Shahih ditempatkan pada
peringkat pertama dari kitab-kitab hadits lainnya. Metode yang dikembangkan
Imam Bukhari dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dilihat dari penamaan
kitabnya al-Jami’ al-Shahih, dan Kedua, langkah-langkah Bukhari dalam melakukan
kajian dan penelitian (al-Istiqra) terhadap hadits. Bukhari hanya mengambil
para perawi tingkatan pertama dari lima
tingkatan murid al-Zuhri untuk diambil haditsnya. Dengan demikian baik syarat
(syuruth al-Shihhah) hadits maupun tingkatan perawinya Bukhari tampaknya selalu
mengambil kriteria yang tertinggi.
Kata
Kunci: Isytirath al-Liqa’