Minggu, 18 Maret 2012

ORIENTALIS RUSIA DAN AL-QUR’AN (Kajian Historis Tentang Perkembangan Tradisi Orientalisme Rusia pada Abad 19-20 M)


ORIENTALIS RUSIA DAN AL-QUR’AN
(Kajian Historis Tentang Perkembangan Tradisi Orientalisme Rusia pada Abad 19-20 M)


Wan Jamaluddin Z*



Abstract

After " the succes story" of Mullah Usman Ibrahim in 18 century, during 19 century Qur'anic Studies in Russia still had no any significant progress. The situation continuoued until G. S. Sablukov and D.N Boguslavskiy created their own works on Al-Qur'an and its interpretation or commentaries in second half of 19 century. The development of Russian tradition in Qur'anic Studies became better than before when another Russian scholar, I. Yu. Krachkovsky  introduced  a new approach in understanding and interpretation the Holy Book (Al-Qur'an) for Russian people in the beginning of 20 century. Unfortunately, Russian scholars entered "the dark era" in Qur'anic Studies, when regime of Soviet-Communist took over the government and launched the atheistic policy and propaganda in second half of 20 century. 

Kata Kunci: Rusia, Orientalis, Orientalisme,

PEMIKIRAN NASHR HAMID ABU ZAYD MENGENAI METODOLOGI TAFSIR AL-QUR`AN


PEMIKIRAN NASHR HAMID ABU ZAYD
MENGENAI METODOLOGI TAFSIR AL-QUR`AN


Anwar Mujahidin*





Abstrak
Pembaharuan metodologi tafsir al-Qur`an meniscayakan pergeseran cara pandang terhadap teks al-Qur`an sebagai obyek kajian. Masalah utama dalam studi al-Qur`an adalah mengembalikan kaitan antara kajian al-Qur`an dengan kajian bahasa dan kritik sastra. Antara kajian al-Qur`an dengan sastra tersusun berbagai ilmu yang porosnya satu, yaitu teks, baik teks tersebut berupa al-Qur`an ataupun hadits Nabi. Persoalan tafsir-ta`wil sebagai kajian ilmiah terhadap al-Qur`an bukanlah tingkat obyektivitas atau subyektifitasnya, namun terhindarkannya dari kecenderungan ideologis, yaitu bias interpreter. Abu Zayd, sebagai seorang pemikjir kontemporer menawarkan tiga prinsip dalam penafsiran al-Qur`an, yaitu, perhatian pada makna teks yang asli, kesadaran akan pesan utama (significance), dan mengaktualkan pesan utama ke dalam konteks masyarakakat kontemporer.

Kata Kunci: Metode Tafsir al-Qur`an, Tekstualitas, Nashr Hamid Abu Zayd

Tasawuf Akhlaqi Menurut Al-Qur’an Sebuah Tafsir Sufistik


Tasawuf Akhlaqi Menurut Al-Qur’an
Sebuah Tafsir Sufistik


Andi Eka Putra

 

Abstrak

Akhlak tasawuf adalah sesuatu yang menetap dalam jiwa dan muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu. Akhlak tasawuf bukanlah perbuatan, kekuatan, dan ma'rifah. Akhlak adalah "hal" atau kondisi jiwa dan bentuknya bathiniah. Al-Ghazali mengkaitkan antara akhlak dan tasawuf sebagai dua dimensi yang tak mungkin terpisahkan. Hal ini merupakan pengembangan ide Ibnu Maskawaih di era klasik, dan sesuai dengan pendapat kalangan Barat modem seperti Kohlberg, John Dewey dan Emile Durkheim. Al-Ghazali membagi akhlak tasawuf dalam Al-Qur’an menjadi mahmudah-munjiyat (baik dan menyelamatkan) dan madzmumah-muhlikat (buruk dan menghancurkan). Akhlak yang baik sesuai pesan Al-Qur’an adalah taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, keikhlasan, dan kejujuran, tawakkal, cinta, ridha, ingat mati. Sedangkan akhlak yang buruk adalah rakus makan, banyak bicara, dengki, kikir, ambisi dan cinta dunia, sombong, ujub dan takabbur serta riya'.

Kata kunci: tasawuf akhlaqi, Al-Qur’an, akhlak tasawuf menurut Al-Qur’an

STUDI NASKAH HADITS; STUDI KITAB SUNAN IBNU MAJAH


STUDI NASKAH HADITS; STUDI KITAB SUNAN IBNU MAJAH

 

K. Muhamad Hakiki*


Abstarak
Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kajian hadits, maka mendengar nama Ibn Majah, bukanlah nama yang terdengar asing. Karena beliau dikenal sebagai seorang ahli hadits yang mumpuni. Salah satu kitab haditsnya yang dikenal dengan nama Ibn Majah menjadi salah satu referensi utama dalam kajian hadits. Meskipun kitab ini baik akan tetapi dibandingkan dengan kitab-kitab hadits lainnya seperti Sunan an-Nasa’i. Kajian Kitab Sunan Ibnu Majah merupakan kajian yang sangat menarik, mengingat “nasib” kitab ini sempat mengalami usaha tarik menarik diantara para ulama mengenai keberadaan posisinya apakah bisa dimasukan dalam jajaran “elit” kitab  Kutub al-Sittah atau-kah tidak ?. Meskipun pada akhirnya kitab ini memantapkan posisinya pada kelas “elit” kitab dengan posisi paling akhir. Tema besar ini-lah yang akan menjadi sasaran objek kajian dengan melakukan analisis penyebab dikukuhkannya kitab Sunan Ibnu Majah dalam deretan Kutub al-Sittah.

Kata Kunci: Hadits, Ibn Majah, Kitab Sunan Ibn Majah


KADAR DAN OBJEK KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN


KADAR DAN OBJEK KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN

 Yusuf Baihaqi*




ABSTRAK

Terdapat perbedaan di kalangan Ulama dalam menentukan kadar kemu'jizatan Al Qur'an, ada yang berpendapat bahwasanya kadar kemu'jizatan yang dimilikinya adalah seukuran surah terpendek darinya, pendapat lain mengatakan bahwasannya kadar kemu'jizatannya adalah Al Qur'an secara keseluruhan atau Al Qur'an walaupun tidak secara keseluruhan akan tetapi dalam jumlah yang banyak atau bahkan sedikit, ada juga yang berpendapat bahwasannya kemu'jizatan Al Qur'an sesungguhnya terdapat dalam jenis dan kualitasnya, bukan pada besaran dan banyaknya. Kesepakatan ulama dalam melihat adanya tantangan dalam Al Qur'an tidaklah membuat mereka sepakat dalam menetukan siapa yang menjadi objek bagi tantangan tersebut, dikarenakan ada sebagian dari mereka berpendapat bahwasannya hanya dari jenis manusia tantangan tersebut diperuntukkan, sedangkan sebagian yang lain berpendapat, bahwasannya tantangan sebagaimana diperuntukkan untuk jenis manusia, juga diperuntukkan untuk jenis jin.
 
Kata kunci : Kadar, Objek, Mu'jizat, Al Qur'an.


ILMU MUSYKIL AL-HADITS Problematika Terminologi dan Sejarah Perkembangan


ILMU MUSYKIL AL-HADITS
Problematika Terminologi dan Sejarah Perkembangan


Achmad Dahlan*



Abstrak

Sebagai sebuah ilmu, Mustholah hadits telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan periwayatan hadits itu sendiri. Artinya, benih-benih ilmu ini secara alamiah telah muncul sejak zaman para sahabat sebagai generasi pertama perawi hadits. Akan tetapi dalam bentuk yang sistematis, ia baru dibukukan pertama kali –sebagaimana pendapat jumhur ulama hadits- oleh Ar Romahurmuzi dalam kitabnya: al-Muhaddits al-Fashil. Dalam perkembangannya, Mustholah hadits semakin matang dan semakin tersistematiskan dengan jerih payah para ulama yang menulis dalam bidang ini, seperti: Abu Abdillah al-Hakim dalam Ma'rifat Ulum al-Hadits, Ibnu Sholah dalam al-Muqoddimah, Imam An-Nawawi dalam al-Taqrib dll. Walaupun demikian, pada kenyataanya, masih ada beberapa pembahasan yang belum final dikalangan ulama, terutama terkait dengan pendefinisian beberapa terminologi dalam ilmu Mustholah hadits. Salah satu diantaranya adalah  Musykil al-Hadits.

Kata Kunci: Musykil al-Hadits, Problematika, Mushtholah

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA DALAM AL-QUR’AN


PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
DALAM AL-QUR’AN


Oleh: Khairullah[1]




Abstrak

Secara garis besar, peran dan tanggungjawab manusia dapat dibagi kepada tiga  peran utama. Pertama, Manusia sebagai hamba Allah SWT. Barometer peran ini adalah Tauhid. Kedua, Manusia sebagai makhluk sosial. Barometer peran ini adalah sikap  egalitarianisme, tolong menolong, dan toleransi. Ketiga, peran sebagai khalifah fil-ardl yang merupakan pengejawantahan dari peran profetik manusia.
Untuk menjalankan kedua peran di atas bukanlah hal yang mudah. Untuk itu Allah membekali manusia dengan potensi. Dengan bekal potensi itu manusia bersedia menerima amanat tersebut, sehingga memungkinkannya mampu mengemban amanat itu. Lebih jaun lagi, potensi yang dimaksud bukan saja potensi untuk dapat menunaikan amanat tersebut, tetapi potensi yang dapat menunaikan amanat dengan baik dan bertanggungjawab.
Potensi itu diwujudkan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum kebenaran yang terkandung dalam ciptaan-Nya, kemudian menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa untuk membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan untuk kemaslahatan umat manusia.

Kata Kunci: Peran, Tanggungjawab, al-Qur’an


Sabtu, 17 Maret 2012

POTRET MASYARAKAT MADANI DAN TATANAN AL QURAN DALAM AYAT-AYAT MADANIYAH SURAT AL-HUJURAT (Manhaj Pembentukan Masyarakat Berakhlak Islam)


POTRET MASYARAKAT MADANI DAN TATANAN AL QURAN DALAM AYAT-AYAT MADANIYAH SURAT AL-HUJURAT
(Manhaj Pembentukan Masyarakat Berakhlak Islam)


Yusafrida Rasyidin*


Abstrak

Surat Al-hujurat juga hadir untuk mendidik umat dengan menanamkan akhlak yang luhur, amal yang utama dan ke-imanan yang tinggi. Madinah didiami oleh beberapa golongan suku bangsa Arab dan bangsa Yahudi yang menganut agama dan keyakinan yang berbeda. Corak masyarakatnya yang majemuk ini bertambah kompleks sejak sebagian penduduknya memeluk Islam dan setelah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Kata Kunci: Masyarakat Madani


SEBAB-SEBAB IKHTILAF ULAMA DALAM MEMAHAMI AL-QUR'AN DAN AL-SUNNAH


SEBAB-SEBAB IKHTILAF ULAMA DALAM MEMAHAMI
AL-QUR'AN DAN AL-SUNNAH


Mahmudin Bunyamin




Abstrak

Rasulullah saw meninggal dunia memenuhi panggilan Rab-Nya dengan meninggalkan sesuatu yang dijadikan pedoman bagi umat-Nya yang berupa Al-Qur'an dan al-Sunnah. Di samping itu beliau saw telah meninggalkan para sahabat yang selalu berinteraksi dengan-Nya dalam setiap kehidupannya, melihat segala prilaku dan tindak-tanduknya, mendengarkan segala sabda-Nya, menyaksikan turunnya wahyu, mempelajari asbab nuzulnya, sehingga memberikan mereka kemampuan untuk memahami dan mempelajari Al-Qur'an dan al-sunnah.

Kata kunci : Perbedaan pendapat merupakan hikmah ilahiyah.

 

Tafsir Sufi Nazari Dan Isyari: Studi Tentang Corak dan Karakteristiknya


Tafsir Sufi Nazari Dan Isyari:
Studi Tentang Corak dan Karakteristiknya


Andi Eka Putra, M.A.



Abstrak
Perkembangan tafsir di kalangan kaum sufi cukup beragam. Kini ada dua model tafsir sufi, tafsir sufi nazari dan tafsir sufi isyari. Baik tafsir sufi nazari maupun tafsir sufi isyari keduanya bercorak sufistik, atau tafsir yang sering digunakan kaum sufi untuk memahami Al-Qur’an. Bedanya adalah:  kalau tafsir sufi nazari terlampau menekankan pencarian makna ayat-ayat Al-Qur’an secara batin, dan mengabaikan makna lahir, tafsir sufi isyari justru menggunakan keduanya sebagai langkah-langkah untuk memahami teks dengan baik. Secara kontekstual, tampaknya tafsir sufi isyari (atau tafsir yang menguraikan isyarat-isyarat yang terdapat dalam teks secara lahir dan batin) lebih relevan dan sesuai dengan semangat Al-Qur’an.   


Kata kunci: tasawuf, metodologi, tafsir nazari, tafsir isyari