Rabu, 25 September 2013

Kesehatan Mental; Persepektif Al-Quran Dan Hadis

Kesehatan Mental;
Persepektif Al-Quran Dan Hadis





Oleh:
Ahmad Zumaro[1]



Abstrak
Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang terdiri dari dua sisi; jasmani dan rohani. Kedua sisi ini wajib dipenuhi kebutuhannya bagi setiap individu untuk mencapai keseimbangan hidup, tapi manusia kadang melupakan kebutuhan sisi rohani dan selalu memenuhi kebutuhan jasmaninya, sehingga terjadilah ketimpangan. Ketimpangan ini menyebabkan ketidak seimbangan dalam diri seseorang sehingga manusia tidak sadar bahwa dirinya sudah mengalami “sakit kejiwaan”. Untuk mengenal dan memahami gejala itu semua islam memberikan gambaran yang jelas bagaimana seseorang yang dihinggapi penyakit rohani dan islam juga memberikan solusi yang harus dijalani oleh setiap manusia untuk menyembuhkan penyakit mental.

Kata Kunci : Kesehatan, Mental, Al-Qur’an, dan Hadis



Pendahuluan
Kehidupan modern dewasa ini telah tampil dalam dua wajah yang antagonistik. Di satu sisi modernisme telah berhasil mewujudkan kemajuan yang spektakuler, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, ia telah menampilkan wajah kemanusiaan yang buram berupa kemanusiaan modern sebagai kesengsaraan rohaniah. Modernitas telah menyeret manusia pada kegersangan spiritual. Ekses ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma modernisme yang terlalu bersifat materialistik dan mekanistik, dan unsur nilai-nilai normatif yang telah terabaikan. Hingga melahirkan problem-problem kejiwaan yang variatif.
Ironisnya, masalah kejiwaan yang dihadapi individu sering mendapat reaksi negatif dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Secara singkat lahirnya stigma ditimbulkan oleh keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai etiologi gangguan jiwa, di samping karena nilai-nilai tradisi dan budaya yang masih kuat berakar, sehingga gangguan jiwa sering kali dikaitkan oleh kepercayaan masyarakat yang bersangkutan. Oleh karenanya, masih ada sebagian masyarakat yang tidak mau terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah (rasional dan obyektif) dan memilih untuk mengenyampingkan perawatan medis dan psikiatris terhadap gangguan jiwa.
Sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, manusia menyadari adanya problem yang mengganggu kejiwaannya, oleh karena itu sejarah manusia juga mencatat adanya upaya mengatasi problema tersebut. Upaya- upaya tersebut ada yang bersifat mistik yang irasional, ada juga yang bersifat rasional, konsepsional dan ilmiah.[2] Pada masyarakat Barat modern atau masyarakat yang mengikuti peradaban Barat yang sekular, solusi yang ditawarkan untuk mengatasi problem kejiwaan itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi, dalam hal ini kesehatan mental. Sedangkan pada masyarakat Islam, karena mereka (kaum muslimin) pada awal sejarahnya telah mengalami problem psikologis seperti yang dialami oleh masyarakat Barat, maka solusi yang ditawarkan lebih bersifat religius spiritual, yakni tasawuf atau akhlak. Pandangan islam tentang kesehatan jiwa berdasarkan atas prinsip keagamaan dan pemikiran falsafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran islam. Keduanya menawarkan solusi bahwa manusia itu akan memperoleh kebahagiaan pada zaman apa pun, jika hidupnya bermakna.[3]
Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan. Setidaknya tiga dari yang disebut di atas berkaitan dengan kesehatan. Tidak heran jika ditemukan bahwa Islam amat kaya dengan tuntunan kesehatan.[4] Kesehatan mental dan jasmani saling mempengaruhi antar keduanya. Gangguan mental akan mempengaruhi fisik, begitu pula sebaliknya, sehingga diperlukan upaya optimal agar keduanya selalu dalam kondisi sehat.
Gangguan kesehatan fisik boleh jadi lebih mudah diatasi karena kasat mata, tetapi kesehatan mental sulit diatasi karena bukan penyakit jasmani dan banyak manusia yang tidak sadar kalau dirinya mengalami gangguan kesehatan mental/jiwa. Tulisan ini akan membahas kajian tentang ayat-ayat al-quran dan hadis yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Pengertian Kesehatan Mental
Para ahli belum ada kesepakatan terhadap batasan atau definisi kesehatan  mental (mental healt). Hal itu disebabkan antara lain karena adanya berbagai sudut pandang dan sistem pendekatan yang berbeda. Dengan tiadanya kesatuan pendapat dan pandangan tersebut, maka menimbulkan adanya perbedaan konsep kesehatan mental. Lebih jauh lagi mengakibatkan terjadinya perbedaan implementasi dalam mencapai dan mengusahakan mental yang sehat. Perbedaan itu wajar dan tidak perlu merisaukan, karena sisi lain adanya perbedaan itu justru memperkaya khasanah dan memperluas pandangan orang mengenai apa dan bagaimana kesehatan mental.[5]
Sejalan dengan keterangan di atas maka di bawah ini dikemukakan beberapa rumusan kesehatan jiwa, antara lain:
Pertama, Musthafa Fahmi, sesungguhnya kesehatan jiwa mempunyai pengertian dan batasan yang banyak. Di sini dikemukakan dua pengertian saja; sekedar untuk mendapat batasan yang dapat digunakan dengan cara memungkinkan memanfaatkan batasan tersebut dalam mengarahkan orang kepada pemahaman hidup mereka dan dapat mengatasi kesukarannya, sehingga mereka dapat hidup bahagia dan melaksanakan misinya sebagai anggota masyarakat yang aktif dan serasi dalam masyarakat sekarang. Pengertian pertama mengatakan kesehatan jiwa adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa dan gangguan kejiwaan. Pengertian ini banyak dipakai dalam lapangan kedokteran jiwa (psikiatri). Pengertian kedua dari kesehatan jiwa adalah dengan cara aktif, luas, lengkap tidak terbatas; ia berhubungan dengan kemampuan orang untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakat lingkungannya, hal itu membawanya kepada kehidupan yang sunyi dari kegoncangan, penuh vitalitas. Dia dapat menerima dirinya dan tidak terdapat padanya tanda-tanda yang menunjukkan tidak keserasian sosial, dia juga tidak melakukan hal-hal yang tidak wajar, akan tetapi ia berkelakuan wajar yang menunjukkan kestabilan jiwa, emosi dan pikiran dalam berbagai lapangan dan di bawah pengaruh semua keadaan. [6]
Zakiah Daradjat mengemukakan, kesehatan mental adalah terhindar seseorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa (tidak ada konflik) dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna dan bahagia, serta dapat menggunakan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin. [7]
Ketiga, menurut M.Buchori, kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tenteram. Jalaluddin dengan mengutip H.C. Witherington menambahkan, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat lapangan psikologi, kedokteran, psikiatri, biologi, sosiologi, dan agama. [8]
Sedangkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)  kesehatan mental didefinisikan; “mental health is difined as a state of well being in which every individual realizes his or her own potential, can cope with normal stesses of life, can work productively and fruitfully and is able to make a contribution to her or his community”.[9] Kondisi yang memungkinkan setiap individu memahami potensi-potensi dirinya, mampu mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan secara normal, dapat berkarya secara produktif, dan mampu berbagi dengan orang lain dalam komunitasnya.
Dari berbagai definisi di atas kesehatan mental dapat dipahami; terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Kesehatan Mental Dalam Al-Quran Dan Hadis
Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan hidup yang beragam. Namun demikian, keberagaman itu dikelompokkan menjadi dua bagian yang mendasar. Pertama, kebutuhan untuk keberlangsungan hidup dan pelestarian jenis (spesies). Kedua, kebutuhan untuk mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup. Dua kebutuhan pokok inilah yang mendorong atau memotivasi manusia melakukan aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut.
Jika seseorang dihadapkan pada dua pengaruh motivasi yang masing-masing sama kekuatannya tetapi tujuan keduanya berlawanan, maka motivasi pertama akan menariknya ketujuan tertentu. Adapun motivasi yang lain menariknya ketujuan yang berlawanan dengan tujuan pertama. Hal ini menyebabkan perasaan bingung dalam diri seseorang karena tidak mampu memenuhi kebutuhan kedua motivasi tersebut secara bersamaan. Kondisi seperti ini membingungkan seseorang dalam menentukan pilihan di antara dua tujuan yang berbeda. Kondisi seperti ini diistilahkan sebagai konflik kejiwaan. Akibatnya orang akan mengalami depresi, stress dan gangguan mental lainnya. Apabila dibiarkan dan tak disadari oleh setiap individu sehingga menjadi parah gangguan mental dapat berujung pada langkah bunuh diri.
Al-Quran menggambarkan konflik kejiwaan ini pada orang munafik yang bimbang dan ragu dalam menentukan pilihan antara keimanan dan kekufuran, antara bergabung dengan kelompok islam dan kelompok kafir. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

¨bÎ) tûüÉ)Ïÿ»uZßJø9$# tbqããÏ»sƒä ©!$# uqèdur öNßgããÏ»yz #sŒÎ)ur (#þqãB$s% n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qãB$s% 4n<$|¡ä. tbrâä!#tãƒ }¨$¨Z9$# Ÿwur šcrãä.õtƒ ©!$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÊÍËÈ   tûüÎ/xö/xB tû÷üt/ y7Ï9ºsŒ Iw 4n<Î) ÏäIwàs¯»yd Iwur 4n<Î) ÏäIwàs¯»yd 4 `tBur È@Î=ôÒムª!$# `n=sù yÅgrB ¼ã&s! WxÎ6y ÇÊÍÌÈ  
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam Keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”[10]

Rasulullah SAW juga menggambarkan konflik kejiwaan yang dialami orang munafik yang bimbang untuk bergabung antara kelompok islam dan kafir dengan kondisi seekor domba betina yang ragu untuk bergabung pada dua kawanan domba. Sesekali domba betina bergabung dengan salah satu kawanan domba, tetapi domba betina juga bergabung dengan kawanan domba lain. Domba betina tidak mampu menentukan yang pasti untuk bergabung dengan salah satu dari dua kawanan domba. Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي الثَّقَفِيَّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً

Artinya: “perumpamaan orang munafik itu seperti domba betina yang bimbang di antara dua kawanan domba. Sesekali domba betina itu mengikuti salah satu dari dua kawanan domba itu, tetapi sesekali ia mengikuti kawanan domba yang lain”.[11]

Konflik kejiwaan yang sering dialami seseorang ditengarai oleh adanya tarik menarik antara motivasi. Antara kebutuhan organik, hawa nafsu, keinginan, dan ambisi duniawi yang harus dipenuhi di satu pihak serta motivasi agama (motivasi psikis) dan spritual dipihak lain. Motivasi agama cenderung mengontrol motivasi organik dan hasrat duniawi. Motivasi ini juga mendorong seseorang untuk menilai kecenderungan dan ambisinya dalam mengejar urusan profan. Penilaian ini didasari oleh pertimbangan untuk meraih kebahagian kekal dan abadi di akhirat. Rasulullah SAW menggambarkan konflik kejiwaan.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا[12]

Artinya: “Aku bagaikan seseorang yang menyalakan api, ketika api itu menerangi sekelilingnya, api itu menyambar tempat tidur sehingga seseorang berusaha memadamkan api itu. Namun, orang itu menceburkan dirinya ke dalam api itu. Kemudian Nabi SAW berkata,” itulah perumpaan aku dengan kalian. Aku berusaha menyelamatkan kalian semua dari jilatan api. Maka hati-hatilah dengan api! Sebab kalian semua berusaha menyelamatkan aku, tetapi kalian menceburkan diri ke dalam api itu.”

Hadis ini menggamberkan konflik antara hasrat indrawi dan kesenangan duniawi disatu pihak dengan motivasi agama dan spritual yang menuntun manusia agar tidak terperosok ke dalam jurang hawa nafsunya dipihak lain. Rasulullah SAW menggambarkan perbandingan antara dua laki-laki pada kondisi konflik seperti ini. Salah satu di antara keduanya ialah orang cerdik yang mampu mengekang dan mengontrol hawa nafsu syahwatnya serta beramal untuk kehidupan akhiratnya. Adapun yang lain ialah orang dungu yang tidak mampu berfikir jernih. Ia selalu mengikuti hawa nafsu syahwatnya dan tidak beramal untuk akhiratnya.

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Orang pandai adalah orang yang dapat menundukan dirinya dan ia melakukan seluruh aktifitas hidupnya demi kehidupan setelah mati (akhirat). Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya sendiri dan berharap kepada Allah SWT dengan harapan hampa.”[13]

Merealisasikan keseimbangan antara raga dan jiwa merupakan syarat mutlak untuk menjadi pribadi normal yang dapat menikmati kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa yang dimaksud di sini ialah jiwa yang diistilahkan dalam Al-quran sebagai an-nafs mutmainah (jiwa yang tenang). Manusia yang normal adalah seorang yang memiliki an-nafs mutmainah tersebut. Jiwa ini menitik beratkan pada aspek kesehatan dan kekuatan badan, memenuhi kebutuhan dasar dengan cara yang halal, memenuhi kebutuhan spritual dengan berpegang teguh pada akidah tauhid, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjalankan ibadah dan melakukan amalan soleh dan menjauhkan diri dari keburukan dan segala hal yang dapat menyebabkan Allah SWT murka. Manusia normal adalah seseorang yang menempuh jalan yang lurus dalam setiap tingkah lakunya, setiap perkataan dan perbuatannya sesuai dengan di jalan Allah SWT yang sepenuhnya tertuang dalam Al-quran yang diwejahwantahkan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya.
Manusia normal yang memiliki an-nafs mutmainah ialah manusia yang hidup sesuai dengan fitrah yang telah diciptakan Allah SWT, yakni akidah tauhid. Dan yang perlu diperhatikan bahwa fitrah tersebut membutuhkan sesuatu yang dapat menjaga, menyegarkan, dan mengokohkannya. Sesuatu yang tidak lain adalah syariah yang diturunkan ke bumi.[14]
Pribadi normal dapat dilihat pada kepribadian Rasulullah SAW yang telah menyeimbangkan kedua sisi material dan spritual. Raasulullah SAW adalah maniusia biasa. Beliau memenuhi kebutuhan jasmaninya pada batas yang disyariatkan. Beliau juga memenuhi kebutuhan spritualnya dengan penuh keikhlasan. Penghambaan dirinya kepada Allah SWT sarat dengan sikap tunduk dan kejernihan hati yang sempurna, tidak dikotori oleh kesenangan duniawi dan keindahannya.
Rasulullah SAW merupakan pribadi manusia sempurna. Beliau adalah manusia yang memiliki perilaku sempurna dan berakhlak terpuji. Seluruh akhlaknya merupakan cerminan al-quran. Rasulullah SAW merupakan prototipe manusia yang memiliki an-nafs mutmainnah ideal yang mencerminkan semua indikator kesehatan jiwa pada tingkat yang tertinggi.[15]

Indikator Kesehatan Mental Dalam Al-Quran Dan Hadis
Allah SWT mengutus utusannya dan menurunkan kitab-Nya. Hal ini untuk menunjukkan dan mengarahkan manusia pada sesuatu yang dapat menjaga fitrah mereka yang benar dan lurus, dapat membangun dan mengokohkan spritualnya dengan beriman kepada Allah SWT serta penyerahan diri sebagai proses penghambaan kepada-Nya tanpa menyekutukannya. Berpegang teguh pada ajaran-Nya serta merealisasikan nilai-nilai ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.

1.      Hubungan Individu Dengan Allah Swt
Beriman kepada Allah harus menjadi landasan utama bagi semua sikap dan tingkah laku sehari-hari. Sebab, hanya mereka yang memfungsikan imannya sebagai kendali kehidupan yang tetap memiliki. Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama mungkin karena faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Namun untuk menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan kelihatannya sulit dilakukan, hal ini Karena manusia ternyata memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat yang gaib, ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (Self) ataupun hati nurani (conscience of man).
Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan, seperti yang ada dalam (QS Ar Ruum 30:30)

óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Penyimpangan atau penolakan terhadap fitrah kemanusian yang dinisbatkan pada fitrah keilahian, misalnya berbuat syirik, menafikan ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT dan memuaskan semua keinginan syahwatnya merupakan suatu penyimpangan terhadap fitrah tiap kemanusian. Orang-orang beriman memiliki sandaran kuat ketika mengalami badai krisis paling berat sekalipun, karena bebannya bisa dilimpahkan kepada Wali yaitu Allah SWT.

2.      Hubungan Individu Dengan Diri Sendiri
Allah SWT telah melengkapi manusia dengan instrumen canggih untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, yaitu berupa akal pikiran. Tugas akal pikirian adalah membuat keputusan (decision making), memecahkan masalah (problem solving) dan kreativitas (creativity). Dengan akal pikiran itu manusia berusaha mengatasi berbagai masalah yang ditemui secara kreatif sehingga mudah mengambil langkah-langkah penyelesaian berikutnya. Tidak buntu dalam satu titik lalu melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian.
Seseorang hendaknya dapat memahami dirinya sendiri, mengetahui kemungkinan dan kemampuan yang ada dalam dirinya sehingga cita-cita yang ingin diraihnya.  Mampu menyelesaikan permasalahan dengan konstruktif, karena dia yakin bahwa Allah SWT tidak akan membebani hambanya dengan di luar kemampuan yang dimiliki seseorang. Termasuk perintah dan larangan yang dibebankan, tidak termasuk dalam kategori ini, yaitu menyulitkan dalam pelaksanaannya, tetapi justru menjadi vitamin bagi mental dan obat bagi jasmani, serta menjaga manusia dari berbagai kesulitan.[16] Dengan demikian, masalah yang dihadapi manusia berkaitan tugas dan kewajiban sebagai hamba semestinya dapat diatasi. Apabila terjadi di luar kemampuan seseorang maka gugur pula kewajiban itu, atau dalam batas-batas tertentu diberikan rukhsah.
Suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia adalah silih bergantinya banyak hal yang dapat memberi kepuasan, kebahagian, dan pada kesempatan lain terjadi kemalangan yang dapat membuat kekecewaan dan kesedihan. Sejatinya, semua orang dapat menerima sesuatu yang membahagiakan, tetapi tidak dapat menerima sesuatu yang menyedihkan. Bagi orang yang sehat mental ia tegar dalam menghadapi kenyataan, baik yang membahagiakan dan menyedihkan, dengan sikap wajar (tidak berlebihan) sebagai suatu variasi dan dinamika kehidupan. Apalagi jika didasari oleh iman yang memaknai sesuatu yang menimpa manusia merupakan musibah sebagai media utama untuk meraih kebahagian dan kesuksesan.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ يَسَارٍ أَبَا الْحُبَابِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ [17]

Artinya: Siapa yang Allah kehendaki memperoleh kebaikan maka ia diberi cobaan (musibah)

3.      Hubungan Individu Dengan Orang Lain
Manusia merupakan makhluk sosial yang harus bersosialisi dengan lingkungan sekitarnya. Ia butuh berkomunikasi, mencintai dan dicintai, berafilisi dengan sesama, dan mengaktualisasikan dirinya secara optimal, semua itu membutuhkan keberadaan orang lain. Persahabatan, pergaulan, kerjasama, serta tolong menolong adalah naluri manusia yang harus tetap diwujudkan dan dipelihara dalam setii’ap individu. Hidup menyendiri atau teralienasi dari kehidupan orang banyak membawa dampak buruk kepada kesehatan mental.
Manusia diciptakan dalam keragaman; gender, etnis, ras, agama, bahasa, warna kulit, budaya agar mereka berupaya saling mengenal. Dari perkenalan itu dapat dibangun kerjasama untuk membangun dan memakmurkan bumi tempat tinggal bersama.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.[18]

Hikmah keberadaan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, bukan untuk berbangga bangga tentang keturunan, tetapi yang paling mulia disisi Allah adalah manusia yang bertakwa. Selain untuk saling mengenal al-quran juga mendorong manusia untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, tidak dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

 (#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ  

Artinya: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.[19]

4.      Hubungan Individu Dengan Alam Semesta
Seseorang hendaknya mengetahui hakikat keberadaaannya di alam semesta sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT atas makhluk lainnya. Ia mengetahui risalah hidupnya sebagai khalifah Allah SWT. Untuk memakmurkan bumi dengan menjalankan segala perintah-Nya. Ia meneliti tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Ia mengetahui kekuasaan Allah SWT yang tiada batas dalam menata semua ciptaan-Nya. Ia merasakan keindahan yang ditangkap dari kreasi yang luar biasa. Ia menjalani hidupnya penuh dengan kebahagian karena mampu menilai bahwa setiap gerakan yang terjadi di alam semesta ini sarat dengan keindahan yang terpancar dari suatu rasa, yaitu cinta, sehingga dengan memahami dan merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Keimanannya bertambah dan dapat menjaga alam semesta dan mempergunakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

Kesimpulan
Kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami bagi setiap individu. Kebanyakan manusia tidak mengenal bahkan tidak mengetahui kalau dirinya terjangkit penyakit rohani. Penyakit rohani yang tak disadari dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Islam memberikan berbagai solusi dari sisi keagamaan dan ilmu pengetahuan. Keimanan merupakan pangkal pokok dari semua timbulnya segala penyakit mental, karena dengan keimanan yang baik seseorang dapat megaplikasikan nilai-nilai keimanannya untuk diri sendiri, orang lain dan alam semesta, sehingga terciptalah manusia yang berorientasi kepada kebaikan bersama, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.



Daftar Pustaka

Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhori, Jami’ Shahih Al-Bukhori, Beirut; Darul Matabi’  As-Sya’bi.
Abdurrahman As-Sa’di, Taysirul Karim Ar-Rahman Fi Tafsiril Karim Karimil Mannan; Muassarah Risalah; 2000.
Abu Isa At-Tarmizi, Shahih Tarmizi Bi Syarh Imam Ibn ‘Arobi Al-Maliki, Beirut; Darul Kitab Arabi, T.Th.
Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1983
Musthafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, ter. Zakiah Daradjat, Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
Ibnu Taimiyah, Ilmu Suluk; Majmu’ Fatawa Syaikh Ahmad  Ibn Taymiyah, Isyraf Arriasah Al-Ammah Li Syuun Al-Haramain As-Syarifain Bi Suudiyah, tth,
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Achmad Mubarok, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000.
Abu Al-Husaini Muslim Bin Hajjaj Muslim Al-Qusayri, Sahih Muslim Bi Syarhi Nawawi, Kairo; Matbaah Mishriyah, Tth.
Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Persepektif  Hadis,(alih bahasa; Zaenudin Bakar),  Jakarta; Pustaka Al-Husna Baru, Th.2004.
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2003.








[1] Dosen STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung
[2] Achmad Mubarok, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Al-Qur’an, Jakarta: Jakarta, 2000, h. 13
[3] Ibid, h. 14
[4] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: PT. Mizan Pustaka anggota IKAPI, 2003, h. 181.
[5] Thohari Musnamar, et al, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islam, Yogyakarta: UII Press, 1992, h. XIII
5. Musthafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, jilid 1, alih bahasa, Zakiah Daradjat, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, h. 20-22.
[7] Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1983, h. 9.
[8] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 154
[9] www.who.int/mental_health/en/
[10] QS. An-Nisa; 142-147
[11] Abu Al-Husaini Muslim Bin Hajjaj Muslim Al-Qusayri, Sahih Muslim Bi Syarhi Nawawi, Kairo;Matbaah Mishriyah, t. th. H. 45
[12] Muslim, jilid 15, h. 49
[13] Abu Isa At-Tarmizi, Shahih Tarmizi Bi Syarh Imam Ibn ‘Arobi Al-Maliki, Beirut; Darul Kitab Arabi, t.th.
`[14] Ibnu Taimiyah, Ilmu Suluk; Majmu’ Fatawa Syaikh Ahmad  Ibn Taymiyah, Isyraf Arriasah Al-Ammah Li Syuun Al-Haramain As-Syarifain Bi Suudiyah, t.th, H. 146
[15] Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Persepektif  Hadis,(alih bahasaZaenudin Bakar),  Jakarta; Pustaka Al-Husna Baru, Th.204, H. 230
[16] Abdurrahman As-Sa’di, Taysirul Karim Ar-Rahman Fi Tafsiril Karim Karimil Mannan; Muassarah Risalah; 2000, Juz 1 H.120
[17] Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhori, Jami’ Shahih Al-Bukhori, Beirut; Darul Matabi’  As-Sya’bi, t.th, Juz 17, H. 377, No. 5213
[18] QS. Al-Hujurat/49;13
[19] QS. Al-Maidah/5;2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar