Sabtu, 17 Maret 2012

MENYELAMI MAKNA DUNIA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA ( Kajian Tafsir Maudhu’i )


MENYELAMI MAKNA DUNIA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA
( Kajian Tafsir Maudhu’i )

 

 Septiawadi


Abstrak

Petunjuk Allah dalam Alquran mengenai dunia tempat manusia menjalani kehidupan menuju kehidupan akhirat bisa dikatakan sebagai informasi dan juga dapat dianggap sebagai konfirmasi. Kajian ini menyorot penggambaran Alquran tentang dunia serta bentuk prilaku manusia ketika menjalani hidup di dunia dengan merujuk pada kronologi ayat.  Isyarat Alquran dapat menjadi konfirmasi bila manusia tidak terperdaya dengan kehidupan dunia yang melalaikan, sebaliknya petunjuk Alquran ini bisa berupa informasi penting bagi mereka yang sering mengabaikan aturan Allah karena sibuk melayani urusan dunia.  

Kata kunci : kehidupan dunia

 

Pendahuluan

     Diantara 2 ungkapan yang sering ditemukan dalam Alquran secara beriringan yang mengandung makna bertolak belakang yaitu dunia dan akhirat. Allah menjadikan 2 kehidupan ini yang masing – masing saling terkait. Untuk menuju hidup akhirat, Allah sudah menentukan bahwa manusia harus melewati rangkaian kehidupan dunia[1] dengan berbagai kegiatan, ibadah dan sebagainya guna mempersiapkan bekal hidup sesudah ini.
   Dalam rangka menginformasikan dan mengkonfirmasikan segala hal yang berhubungan dengan dunia ini, Allah telah menyatakan dalam Alquran dengan berbagai ungkapan.
     Wahyu Allah yang disebut juga dengan ayat yang berarti tanda. Manusia dituntut untuk memahami tanda, simbol, perlambang itu lewat wahyu bahkan ditemukan juga ayat Alquran yang jelas – jelas berupa  tamtsilan (perumpamaan) yang kesemuanya membutuhkan penafsiran. Salah satu tanda (ayat) itu adalah istilah dunia. Apa saja bentuk informasi Allah mengenai dunia lalu bagaimana pula seharusnya manusia berprilaku dalam kehidupan di dunia ini ? Barangkali demikian persoalan yang akan penulis coba uraikan dalam tulisan sederhana ini dengan tinjauan penafsiran maudhu’i.

1. Pengertian tentang Dunia

     Ungkapan dunia sebenarnya tidak asing bagi kita karena sudah menjadi bahasa serapan dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa dunia disebut sebagai lawan dari kata akhirat.[2] Dikatakan juga sebagai tempat manusia hidup sebelum mati atau dapat berarti bumi yang didiami manusia.[3] Menurut Lisanul Arab, kata dunia berasal dari danadunuwwan, danawah  semakna dengan qaruba yang berarti dekat. Dinamakan dunia karena dekat posisinya dengan tempat kita bahkan kita inipun berada dalam dekapan dunia. Maka ada ungkapan as-Sama’ ad-Dunya artinya langit yang dekat dengan keberadaan kita. Selain itu dunia dikenal juga dengan nama kehidupan yang dijalani sekarang karena jauh dari akhirat. Terkadang kata dunia terambil juga dari kata daniydanayah, dinayah jadi ya  disini sebagai ganti waw yang bermakna kelemahan, jatuh ( terhina ).[4] Ada baiknya kita kemukakan juga pendapat ulama Indonesia bahwa dunia berasal dari dana -  yadnu-dunuwwan, danawah  yang dapat juga berasal dari daniya – yadna – danayah yang bermaksud rendah, hina, sempit.[5] Beberapa penelusuran dari kata dunia dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan dunia adalah tempat yang kita diami sekarang termasuk langit atau jagat raya yang memang dekat sesuai maknanya ( dekat ) dari pandangan dibanding akhirat yang tak dapat tercium sama sekali. Dapat juga diartikan sebagai kehidupan sekarang yang sangat rendah, hina, tidak abadi.

2. Identifikasi Ayat Alquran tentang Dunia

    Berdasarkan akar kata dunia (                  ) dengan berbagai shighatbentuknya dijumpai dalam Alquran sebanyak 133 kali[6] dengan rincian sebagai berikut;
Dana sebanyak  1 kali
Yudnina sebanyak  1 kali
Danin sebanyak 1 kali
Daniyah sebanyak  3 kali
Adna sebanyak  12 kali
Ad-Dunya sebanyak  115 kali
      Sedangkan kata yang semakna dengan ad-Dunya yaitu al-ula (          ) juga terlihat pengulangannya dalam Alquran sebanyak 17 kali,[7] diantaranya yang menunjukkan arti dunia hanya 8 tempat. Dari 8 ini yang diiringi dengan kata akhirat ada 5 sisanya al-ula (            ) berdiri sendiri. Jenis terakhir ini terdapat dalam;
As-Shaffat ( 37 ) : 59
Ad-Dukhan ( 44 ) : 35
Ad-Dukhan ( 44 ) : 56
Ketiganya menjelaskan tentang jenis kematian yang terjadi hanya di dunia saja lalu setelah manusia dibangkitkan kembali tidak pernah merasakan mati lagi. Adapun 5 ayat yang terhubung dengan kata akhirat berbicara mengenai 2 hal pertama terkait dengan keutamaan akhirat dari dunia, kedua berhubungan dengan keberadaan Allah.  
Dalam makalah ini penulis memfokuskan bahasan menyangkut ungkapan ad-dunya disamping akan diperhatikan juga makna derivasinya. Berbicara tentang dunia dalam tinjauan Alquran, paling tidak ada 2 hal yang sangat menonjol dalam penjelasannya yaitu dunia yang dikaitkan dengan al-hayah (             ) dan dunia yang selalu digandengkan dengan kata akhirat. Tampaknya 2 hal ini tidak dapat dilepaskan ketika mengkaji dunia. Sedangkan kata ad-dunya (             ) yang tidak terhubung dengan 2 kata diatas terulang sebanyak 17 kali.[8]
Adapun kata ad-dunya – dari 115 kali terulang -  yang dihubungkan dengan al-hayah ditemukan 68 kali,[9] yang beriringan penyebutannya dengan akhirat dalam satu ayat  ditemukan  42 kali.[10] Ditemukan juga ungkapan ad-dunya dan akhirat bersamaan yang didahului oleh kata al-hayah sebanyak 2 kali yaitu; Yunus : 64 dan Fushshilat : 31.     


3. Perihal tentang Dunia
    Untuk mengenali dunia tempat kita beraktifitas ini ada perlunya diperhatikan ayat 5 surat al-Mulk ( 67 ). Dinyatakan disini bahwa langit dunia ( jagat raya ) dihiasi Allah dengan bintang – binatang yang dijadikan sebagai pelempar setan. Di tempat lain ( as-Shaffat : 6 ) diterangkan bahwa langit dunia yang diberi atribut itu kami pelihara dari gangguan setan yang durhaka. Ditegaskan, setan tidak dapat mendengar pembicaraan alam malaikat ( di langit ) bahkan gugusan bintang itu dijadikan untuk mengusir mereka ( sebagai pagar ). Siapa yang mendekat akan tersambar sinar bintang yang tajam. Hal senada dijumpai pula pada fushshilat : 12.[11]
    Dalam tafsir Ibnu Katsir terungkap riwayat yang bersumber dari Qatadah serta   diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bersama Ibnu Abi Hatim bahwa gugusan bintang itu diciptakan dengan 3 tujuan; Pertama untuk menghiasi langit, kedua sebagai alat pengusir setan ketiga sebagai radar yang mengawasi gangguan. Di nyatakan juga bahwa siapa yang mencari takwil dari maksud ayat berdasarkan ra’yunya akan cenderung salah maka berhati – hatilah.[12]
    Bila diperhatikan masing – masing ayat diatas  terlihat bahwa rangkaian ayatnya berbicara dalam tema yang sama yaitu tentang kejadian alam ( langit, bumi dan seisinya ). Dua tempat ( al-Mulk dan fushshilat ) dinyatakan bahwa Allah menciptakan 7 langit berlapis – lapis lalu pada langit yang terdekat ( ad-dunya ) dihiasi dengan gugusan bintang. Dunia yang kita tempati ini dibatasi oleh 1 langit ( langit yang terdekat dengan kita ) sedang langit inipun merupakan ancaman pula bagi setan yang dia sendiri tak sanggup menghampirinya atau mengintip / mendekat ke sana sebab sudah dibentengi dengan pagar bintang – bintang yang siap menyambar. Apalagi untuk menuju ke langit yang lain.
     Ditambahkan oleh az- Zuhaili bahwa cahaya bintang – bintang di langit tersebut sampai menembus bumi laksana sorotan lampu terhadap sesuatu.[13] Dengan penjelasan diatas membuktikan bahwa dunia ini memang dekat sesuai dengan namanya. Langit – langit yang lain tidak dapat kita ketahui[14] apalagi akhirat yang terbilang sangat jauh dari dunia. Dengan demikian keberadaan dunia ialah yang kita diami dan yang dekat dengan kita termasuk langit. Memang tidak ditemukan ayat Alquran yang menerangkan wujud dunia itu sendiri artinya kata dunia seringkali menjadi penyifatan sesuatu seperti langit dunia ( yang dekat ). Jadi dunia berupa penamaan yang dilekatkan dengan sesuatu. Hakikat dunia inipun hanya satu ( kata mufrad / tunggal ) lawan dari akhirat dan tidak ada berbentuk jamak terungkap.[15] Dalam bahasa kita saja yang menyebut seperti dunia barat, dunia timur tapi pengertianya tidak persis sama dengan yang dimaksud ayat Alquran. 

4. Hakikat Kehidupan Dunia

Pada uraian dimuka terungkap bahwa ketika Alquran membicarakan dunia sering kali dikaitkan dengan al-hayah ( kehidupan ) yang mengindikasikan bahwa dunia bagi manusia adalah tempat berkarya dan beragam aktifitas kehidupan artinya usaha manusia didunia sebagai penentu nasib ketika meninggalkan dunia fana ini.  
Alquran memberikan gambaran tentang arti kehidupan dunia dengan bermacam ungkapan, seperti terlihat dalam uraian berikut.
  1. Mata’ ( mata’ al-ghurur )
Beberapa ayat Alquran hampir senada mengatakan bahwa sifat  kehidupan dunia hanyalah sementara. Dalam surat al-Mukmin ( 40 ) : 39 disebutkan, kehidupan dunia sebagai kesenangan ( mata’             ), dalam terjemahan depag diartikan sebagai kesenangan sementara.[16] Selain itu dijelaskan bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan ( mata’ al-ghurur                      ). Ayat ini membicarakan tentang kematian yang pasti dirasakan oleh setiap jiwa dan nanti pada hari kiamat semua pahala akan disempurnakan. Diceritakan bahwa orang yang beruntung adalah yang merasakan kesenangan yang sesungguhnya yaitu berada dalam surga. Sebaliknya siapa yang larut dalam kesenangan dunia tanpa mempedulikan aturan Allah ( agama ) maka kesenangan yang diperoleh itu hanya nisbi.[17] Sejalan dengan keterangan akhir ini surat  al-Hadid : 20.[18]  
      Zuhaili memahami ayat 185 diatas sebagai kehidupan menyenangkan yang mengandung penipuan seperti sering terjadi dalam praktek jual beli. Kehidupan dunia yang enak kita rasakan seperti enak makan, minum, hubungan seksual, bahkan kemegahan, popularitas, jabatan itu tidak lain seperti kesenangan penjual yang menipu. Inilah orang yang mengutamakan  dunia dari akhirat.[19]
     Maksud ayat 185 menurut Ibnu Katsir, untuk ( merendahkan) mengecilkan dunia sebab dunia itu akan fana. Tetapi orang masih mementingkan kehidupan dunia dari akhirat padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal ( al-A’la ( 87 ) : 16-17 ). Dalam suatu hadis pernah terungkap bahwa ; dunia dibandingkan akhirat bagaikan seseorang mencelupkan jari ke laut dan diangkat lalu perhatikan berapa air yang menetes lagi ke laut. Menurut Qatadah seperti dikutip Ibnu Katsir mengartikan kesenangan dengan kesenangan yang melalaikan. Maka manfaatkan kesenangan itu demi taat kepada Allah.[20]  Ditambahkan as-Shabuni bahwa dunia adalah kampung yang fana dari itu bersenang – senang di dunia tanpa peduli hari akhirat itulah orang pandir lagi tertipu.[21]  Kesenangan di dunia tidak ada yang abadi maka dari itu manusia diperingatkan agar berhati – hati dalam menikmatinya, jangan sampai lupa mengingat Allah. Kesenangan dalam beribadahpun belum seberapa bila dihadapkan balasan di akhirat.
  1. la’ib wa lahw
       Adapun wujud lain dari kehidupan dunia dinyatakan Alquran yaitu sebagai permainan – senda gurau ( la’ib wa lahw                                ). Ada 4 kali ayat yang mengungkap hal ini yaitu surat  al-Ankabut ( 29 ) : 64,  al-An’am ( 6 ) : 32,  al-Hadid ( 57 ) : 20 dan  Muhammad ( 47 ) : 36. 
Dalam ayat 29 al-Ankabut ditegaskan bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah negeri akhirat sedangkan kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Lalu siapa yang lalai terhadap Tuhan dan mementingkan kesenangan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah permainan, nanti di akhirat mereka termasuk orang yang merugi; sedangkan bagi yang bertaqwa akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia.[22]  Karena itu jika kamu ( manusia ) beriman dan bertaqwa kepada Allah[23] maka akan diberikan pahala yang sangat besar dan Dia tidak akan meminta harta yang kamu kumpulkan.[24]  Disamping bentuk kehidupan dunia diatas ditambahkan makna yang lain yaitu sebagai perhiasan, berbangga diri dan kemegahan.[25]
     Mengenai ayat 32 al-An’am dijelaskan oleh al-Maraghi, menurut orang kafir tidak ada lagi kehidupan setelah dunia ini,[26]  karena itu mereka melakukan apa saja baik itu berfaedah walau sesaat atau tidak ada faedah dan mereka tidak memikirkan harapan setelah mati, bahakan mereka tidak bisa menerima cobaan hidup. Ditegaskan oleh al-Maraghi bahwa kelezatan dunia sangat nisbi sama halnya dengan makanan yang tidak tertarik / tiada rasa lagi bila perut kenyang.[27]  Dengan kata lain kehidupan ini dikatakan permainan karena singkat waktunya adan cepat hilang kenikmatannya.[28]
    Sementara itu terkait dengan kata la’ib wa lahw,   Shihab menjelaskan la’ib sebagai aktifitas yang sia – sia dan tanpa tujuan. Apa yang dihasilkan tidak lain hanyalah hal – hal yang menyenangkan hati tetapi menghabiskan waktu. Selain itu kehidupan berarti juga kelengahan lahw yaitu melakukan kegiatan yang menyenangkan hati tetapi tidak / kurang penting sehingga melengahkan pelakunya dari hal – hal yang penting / lebih penting.[29]
  1. Zinah
Wujud kehidupan dunia juga dikatakan sebagai perhiasan zinah ).[30]  Sejalan dengan pengertian ini ayat 46 al-Kahfi  kiranya dapat dijadikan penjelas makna perhiasan tersebut. Disebutkan diantara perhiasan kehidupan dunia adalah harta dan anak.[31]  Memang harta dan anak dapat menjadikan hidup indah, bahagia namun itupun hanya sesaat bahkan harta dan anak pun terkadang cepat berlalu pula dari pemiliknya. Malahan harta dan anak meruapakan amanah dan harus dipelihara, jangan sampai disia – siakan dan seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perlu diingat, harta dan anak adalah ujian ( fitnah ) dari Allah.[32]
  1. Tafakhur dan takatsur
Kehidupan dunia dinyatakan juga sebagai tafakhur ( berbangga diri ) dan takatsur ( kemegahan ).[33]  Kata tafakhur dalam Alquran hanya sekali terungkap yaitu dalam ayat ini.[34]  Umumnya kata asli fakhar diterjemahkan kebanggaan yang dipadankan dengan kesombongan ( seperti dalam terjemahan depag ). Dengan demikian tafakhur berarti saling membangga – banggakan yang terselip juga didalamnya sifat kesombongan. Menurut as- Shabuni makna “ membanggakan “ dapat juga tinggi hati membesarkan diri dengan menjauh ( tidak bergaul ) dari kerabat, tetangga sebab ia merasa lebih dari yang lain.[35] Kalau masing – masing orang merasa dirinya lebih dari yang lain maka muncullah ingin membanggakan apa yang dimiliki. Beginilah kehidupan dunia yang semu tak obahnya seperti semu nya kebanggaan. Seperti penjelasan tadi, orang itu tidak perlu sombong sebab ia hanya merasa besar yang artinya bukan besar.
Sedangkan kata takatsur  ( kemegahan ), dipahami sebagai cerminan dari kehidupan dunia. Kata ini terulang hanya 2 kali ( 1 lagi dalam surat at-Takatsur ) dalam Alquran. Kata ini terambil dari akar kata katsura yang berarti banyak. Adapun takatsur disini mengindikasikan ada jumlah ( yang banyak ) yang ditonjolkan. Kalau diperhatikan dalam ayat dipahami bahwa manusia berlomba – lomba dengan adanya harta dan anak. Padahal harta dan anak hanya titipan justru manusia sering lalai dan terikat dengan hal itu sampai lupa beribadah.[36] Bentuk serupa ini termasuk hakikat kehidupan dunia yang ditegaskan Allah dalam ayatnya.
Dalam menjelaskan bentuk kehidupan dunia Alquran memperkenalkan juga dengan ungkapan majazi  ( kiasan ). Kehidupan dunia digambarkan seperti air hujan yang membasahi bumi lalu tanaman menjadi subur dan siap dipanen yang menggembirakan pemiliknya. Kemudian selang beberapa waktu, tiba – tiba tanaman tersebut sudah seperti disabit dan seakan – akan tak pernah ada sebelumnya.[37] Ayat ini merupakan tamtsilan kehidupan dunia yang utuh dalam satu ayat dan termasuk ayat makkiyah. Sedangkan ayat lain[38] turun di madinah, tamtsilan dunia dalam ayat itu hanya disisipkan saja.
            Uraian tentang hakikat kehidupan dunia yang ditegaskan Allah dapat dipahami sebagai informasi bagi siapa  menganggap kehidupan dunia adalah sangat substansi ( tidak bersifat permainan dan seterusnya ) dan juga sebagai konfirmasi bagi siapa yang berpikir dan merasakan bahwa di dunia ini tidak ada kelanggengan dan ada kesudahan. Pada dasarnya begitulah ( sebagai konfirmasi dari Allah ) realita kehidupan dunia yang senantiasa sering membuat lalai kepada Allah.
    Namun kehidupan dunia yang digambarkan demikian jangan pula kita merasa pesimis menghadapi hidup ini, justeru sebaliknya optimisme kuat yang bangkit. Manusia silakan menikmati dunia asal tidak membuat lupa diri dan lupa kepada Allah. Bagaimanapun apa yang kita peroleh dan rasakan yang pasti ia tidak kekal karena semua akan hancur dan tidak dibawa mati. Hanya implikasi amal didunialah yang akan diterima ganjarannya. Sebagaimana terlihat diatas bahwa runtutan peringatan Allah sangat jelas, pertama al-Ankabut : 64 / makkiyah yang ditegaskan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat.[39] Kalau di dunia ada kedinamisan hidup, perobahan waktu, fisik pendeknya bersifat material sedangkan diakhirat kehidupan non material, permanen ( dara - yadiru – daur = tidak berkesudahan seperti lingkaran ) apalagi dengan melihat Allah yang immateri.  Selanjutnya al-An’am : 32 / makkiyah, diberikan pilihan secara tidak langsung yang mencirikan akan kualitas manusia yang bisa berpikir logis. Bahkan ditambah dengan bahasa kiasan seperti al-Hadid : 20 / madaniyah. Terakhir surat Muhammad : 36 / madaniyah, Alquran tidak lagi mendikte tapi cukup dengan peringatan halus dan mengajak manusia agar punya kesadaran diri. Disini sangat tampak bahwa Allah tidak butuh sebenarnya dengan sikap manusia yang tidak mau mengerti.


5. Macam – macam Kesenangan Dunia
      Informasi tentang kesenangan hidup dunia yang dijelaskan Alquran didasarkan pada kata mata’ ( dzalika mata’ ).[40] Seperti terungkap bahwa suatu kesenangan dunia dapat dihasilkan dari berbuat zalim yaitu melakukan perbuatan yang melanggar aturan Allah. Diceritakan, ketika mereka mendapatkan kesulitan lalu diselamatkan oleh Allah kemudian mereka berlaku zalim kembali. Itulah kesenangan hidup di dunia.[41] Bahkan secara umum dikatakan segala macam bentuk kehidupan dunia merupakan kesenangan nisbi.[42] Juga disebutkan bahwa disamping sebagai kesenangan, dapat pula berarti sebagai perhiasan.[43]
    Ibnu Katsir ketika menyinggung ayat 60 al-Qasas  diatas menyebutkan bahwa kesenangan hidup dan perhiasan dunia merupakan anugerah Allah yang semuanya nanti akan sirna sebaliknya kesenangan yang disediakan bagi hamba yang saleh di akhirat itulah kesenangan yang abadi.[44] Anugerah itu dapat berwujud material atau non material seperti kenikmatan yang dirasakan.
    Berkenaan dengan kesenangan hidup dunia diuraikan dalam surat Ali Imran ( 3 ) : 14 yaitu senang pada pasangan hidup ( suami –isteri ), anak – anak, harta yang banyak  ( berupa emas, perak ), kuda terlatih, ternak dan kebon ( ladang ). Kesenangan ini disifatkan dengan syahawat ( syahwat ) yang berarti kecintaan yang kuat atau kecendrungan hati yang lebih dan kesenangan tersebut membawa  kelezatan ibarat makan. Jadi merupakan dorongan kuat dalam jiwa dan menjadi indah menurut pandangan mata serta kehendak hati. Dengan demikian jangan larut dalam mencintai sesuatu supaya dapat menjaga keseimbangan diri bila yang dicintai itu luput. Syahwat diciptakan Allah bertujuan untuk menguji manusia, al- Kahfi ( 18 ) : 7.[45]
     Bila diperhatikan tahapan pewahyuan tentang kesenangan hidup ini terlihat, ketika di Makah Alquran mengingatkan secara umum bahwa kesenangan hidup ada yang diperoleh dari perbuatan zalim, kebohongan ( contoh ketauhidan yaitu Allah dianggap punya Allah ). Bahkan dalam beberapa ayat diberitakan bahwa hidup ini termasuk kesenangan dunia.
     Pada periode Madinah hanya 1 ayat yang menyinggung bentuk kesenangan dunia dan disebutkan jenisnya. Sekalipun kesenangan tersebut sangat hebat tapi tetap sesaat. Demikian penjelasan ayat. Satu hal lagi perlu dikemukakan disini bahwa dari beberapa ayat yang menjelaskan tentang kesenangan dunia hanya 3 ayat yang membandingkan dengan tegas bahwa kesenangan tersebut sangat kecil dibanding di akhirat.[46]  Ayat –ayat itupun diturunkan di Madinah artinya setelah Allah menjelaskan macam –macam kenikmatan dunia dan faktor-faktornya lalu Allah mengajak manusia untuk berpikir jernih agar punya perhatian masa depan ( akhirat ).

6. Kehidupan Dunia yang Melenakan Manusia
      Allah sudah memperingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat sementara untuk menuju akhirat yang sekaligus melihat hasil amal selama dalam perjalanan ( dunia ). Maka dari itu jangan sampai kemewahan dunia yang diraih membuat manusia berlaku zalim dimuka bumi.[47]
      Alquran mensinyalir bahwa diantara orang yang ditipu oleh kehidupan dunia ( gharrat humul hayatud dunya  -                                                  ) yaitu mereka yang menjadikan agama hanya sebagai bahan main –main serta banyak melanggar aturannya. Selanjutnya ditegaskan bahwa orang yang mempermainkan agama ( Islam ) jangan diikuti ( ikut terpengaruh ), bahkan Alquran menyarankan untuk menyadarkan mereka yang terlanjur keliru tersebut.[48]  Malahan mereka ini dianggap telah kafir karena mengingkari ayat – ayat Allah. Diakhirat nanti – jelas Alquran -  mereka akan sadar dari perbuatannya.[49]
      Mengenai ayat 70 al – An’am diatas, al-Maraghi menjelaskan maksud dari  “orang yang menjadikan agama sebagai permainan “ berarti Ia mengerjakan sesuatu yang tidak membersihkan jiwanya, tidak menyucikan hatinya dan juga tidak memperbaiki akhlaknya. Pada dasarnya perbuatan tersebut tidak direstui oleh Allah. Ia hanya menghabiskan waktu pada hal –hal yang tidak berguna atau hanya sibuk mengurus urusan dunia.[50] Barangkali dapat disejajarkan dengan orang yang mencari kelemahan prinsip ajaran agar orang lain menjadi ragu atau mencari penafsiran yang hanya berdasarkan nilai historis tanpa memandang substansi ajaran. Dengan kata lain, ingin menyesuaikan dengan perkembangan zaman tapi mengorbankan inti ajaran. Ingin menggunakan baju model baru yang terpajang tapi baju yang dipakai sudah dibuang terlebih dahulu.

7. Ganjaran di Dunia sebagian dari Akhirat     
      Tindak laku dan tingkah tanduk  manusia di dunia sangat menentukan bagaimana kehidupan di akhirat kelak. Banyak ayat – ayta yang menginformasikan bahwa apa saja yang diperbuat sekarang pasti akan diterima akibatnya. Seperti terlihat dalam al-Qasas ( 28 ) : 42 yang dinyatakan bahwa laknat Allah yang berlaku  kepada orang durhaka di dunia maka pada hari kiamat mereka akan terjauh dari rahmat Allah. Ayat ini menggambarkan tentang hukuman dunia yang dialami Fir’aun dan pengikutnya yang tidak mentaati perintah Allah dan nabi Musa sedang di akhirat nanti keadaan mereka lebih tercela lagi.[51]
     Sementara itu ganjaran seperti keberkahan dalam hidup, ketenangan jiwa, kebaikan di dunia[52] juga ditampakkan sebagai bagian dari nikmat yang akan diterima secara penuh, sempurna di akhirat. Sekarang yang diterima itu baru berupa panjar dari Allah. Dengan demikian siapa yang berbuat baik di dunia dan dirasakan manfaatnya ( balasannya ) sedangkan diakhirat akan memperoleh lebih baik lagi.[53] Siapa yang meningkatkan kualitas amalnya di dunia maka Allah akan membaguskan amalnya di dunia dan akhirat. Kebaikan di akhirat tidak dapat diukur dengan segenap kebaikan di dunia.[54] 

8. Keseimbangan Dunia – Akhirat
      Memang banyak ayat – ayat kita temukan yang mengecam kehidupan dunia dan prilaku manusianya yang sering direndahkan seperti kesenangan dunia yang banyak tipuan, kehidupan dunia yang dianggap sandiwara[55] ( la’ib wa lahw ) dan banyak lagi predikat yang dinisbahkan pada dunia. Kalau diperhatikan gambaran tentang dunia atau keberadaan dunia tersebut bukan untuk menjauhkan dunia dari kita tapi peringatan bagaimana seharusnya beramal di dunia dalam rangka menuju hidup di akhirat. Sebab dunia inilah satu – satunya sarana yang mengantarkan ke akhirat mak harus dijalani.
    Oleh sebab itu manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan dan meyeimbangkan antara kehidupan dunia agar bahagia dan enak pula nanti di akhirat. Sangat tepat bahwa Alquran sering mengaitkan kehidupan dunia dengan akhirat. Bahkan manusia disuruh berdoa untuk dapat meraih kebahagiaan hidup kedua – duanya. Justeru Allah mencela terhadap orang yang berdoa untuk mencapai kebahagiaan dunia saja.[56]
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir, contoh mereka yang mementingkan dunia saja yaitu pada masa dahulu sekelompok masyarakat Arab ketika berkumpul di Arafah seraya berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa menjadikan musim hujan, tanah yang subur serta anak – anak yang kuat / sehat. Mereka tidak memikirkan sehubungan dengan kehidupan di akhirat.[57] Kemudian datang rombongan berikut yang berdoa untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Lalu Allah memuji kelompok ini yang meyeimbangkan keperluan dunia dan kepentingan akhirat. Mereka ( sebagaimana janji Allah ) akan mendapatkan bagian kedua – duanya dari apa yang mereka usahakan di dunia.[58]
Diantara kebaikan dunia adalah kesehatan jasmani – rohani, rumah ( kediaman ) yang kondusif, pasangan hidup yang baik, rizki yang luas sedangkan kebaikan akhirat yaitu aman dari ketakutan yang luar biasa ( seperti hari berbangkit ), memudahkan hisab, masuk surga dan memandang wajah Allah.[59]
Apalagi cara yang ditempuh sangat tidak disukai Allah seperti ingin mendapatkan harta ( rampasan perang ) dengan berpaling dari musuh demi kesenangan duniawi malahan menghancurkan diri sendiri.[60] Kalau mereka menang dalam pertempuran dan dapat harta rampasan maka berarti ia sudah mendapat 2 pahala ( ganjaran ) yaitu pahala di dunia berupa hal tersebut sedangkan pahala di akhirat adalah lebih besar lagi dari itu.[61] Kalau begitu dengan beramal untuk mengharapkan pahala akhirat dengan serta merta akan memperoleh juga pahala di akhirat, bukan sebaliknya.
     Inilah contoh amal yang berimplikasi kepada kehidupan akhirat. Kalau beramal untuk tujuan dunia saja dapat juga diraih atau dipenuhi Allah namun di akhirat ia termasuk orang yang merugi.
     Sementara itu disaat manusia disuruh mempersiapkan bekal menuju kebahagiaan akhirat langsung dibarengi dengan pernyataan larangan jangan sampai mengabaikan kesejahteraan dunia (tidak mencari karunia Allah / nasib di dunia).[62]  Tema ayat ini sangat berkaitan dengan ayat sebelumnya yang bercerita tentang keangkuhan Qarun yang bergelimang harta sehingga melupakan amal untuk kepentingan akhirat. Melihat kenyataan prilaku Qarun diatas wajar sekali ada penekanan ayat yang terkesan memprioritaskan akhirat[63] dengan mendahulukan penyebutannya dari dunia.
    Diterangkan oleh Ibnu Katsir bahwa seharusnya karunia yang dianugerahkan Allah kepada manusia supaya dimanfaatkan dalam rangka menambah ketaatan dan ketundukan kepadaNya. Dengan rezki yang didapat itu, juga diharapkan dapat menghasilkan tsawab (pahala) dunia dan akhirat. Disamping itu manusia harus dapat memahami kategori hak –hak seperti hak Allah, hak diri sendiri, hak keluarga. Maka dari itu wajiblah baginya untuk melaksanakan seluruh hak –hak tersebut.[64]  

 

Penutup

Beberapa ayat yang berbicara tentang kehidupan dunia, ada diantaranya yang tegas menyatakan bahwa wujud kehidupan dunia itu adalah kesenangan nisbi, permainan, sebagai perhiasan, saling unjuk kemegahan serta saling unjuk kemewahan dengan kesombongan.
Bahasa Alquran senantiasa gradual ketika menetapkan sesuatu perkara yang tidak terkecuali dalam menjelaskan kedudukan dunia bagi kehidupan manusia. Dari 4 ayat yang sangat terkait dengan kehidupan dunia kita jumpai bahwa 2 ayat makiyah ( al- Ankabut dan al-An’am ) dikemukakan dengan pernyataan tegas bahwa akhirat lebih penting. Sedangkan 2 ayat madaniyah ( al-Hadid dan Muhammad )gambaran kehidupan dunia diungkapkan secara halus agar manusia dapat berpikir dan sadar akan kehidupan yang dijalani.
Untuk menghadapi hidup di dunia ini berkaryalah dengan nilai – nilai yang bermanfaat baik untuk diri sendiri atau orang lain. Isilah kehidupan dunia ini dengan proporsional antara kesuksesan dunia dapat diraih yang juga bisa mengantarkan kebahagiaan akhirat.
Allah menginformasikan dunia seperti penjelasan diatas adalah untuk peringatan menghadapi hidup setelah di dunia ini. Artinya bukan mematahkan semangat untuk hidup tetapi memotivasi supaya memanfaatkan hidup di dunia yang sesaat demi mempersiapkan bekal menuju akhirat. Allah mengecam orang – orang yang terlena dengan segala kenikmatan dan gemerlapan dunia.
            Wa Allahu a’lam,
           

 

 





 

 KEPUSTAKAAN


As-Shabuni, M. Ali, Shafwah at-Tafasir, Beirut : Dar al-Quran al-Karim, 1981 / 1401, jilid 1, Cet. Ke- 2,
Al-Baqi, Muhammad Fuad Abd, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Quran, Indonesia : Maktabah Dahlan, tth,
Al-Fairuzzabadi, Majduddin Muhammad bin Ya’kub,  Al-Qamus al-Muhith, Beirut : Darul Jail, t.th, juz 4
Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, Beirut : Darul Fikri, 1992 / 1412, jilid 4
Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, Kairo : Darul Ma’arif, t.th, jilid 2
Al-Maraghi,Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghi, tt : 1974 / 1394, juz 7, Cet. Ke- 3
Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir  Arab – Indonesia, Surabaya : Pustaka Progresif, 1997, Cet. Ke- 14
Shihab, Quraisy,  Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2002, Vol, 14 , Cet. Ke- 1
Zain, JS. Badudu dan Sutan Muhammad, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2000, Cet. Ke – 4
Zakaria, Abi al-Husain bin Faris bin, Al-Mu’jam al-Maqayis fi al-Lughah, Beirut : Darul Fikri, 1994 / 1415, Cet. Ke- 1
Az-Zuhaili, Wahbah,  At-Tafsir al-Munir, Beirut : Darul Fikri, 1991 / 1411, juz 23, Cet. Ke- 1

 

 

 









[1] Pada umumnya manusia menjalani kehidupan di alam rahim (kandungan), terlahir ke dunia nyata ini sebagai bayi lalu menjadi remaja terus dewasa berangkat tua, jompo sampai berpisahnya roh dari badan ( jasad ) kemudian bermuqim di alam kubur sambil menunggu kedatangan hari kiamat.    
[2] Kata ini pun telah menjadi bahasa sehari – hari kita.
[3] JS. Badudu dan Sutan Muhammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2000, Cet. Ke – 4, h. 363
[4] Asal kata dunya adalah ad-Dunwa  sebagai muannats tafdhil lalu diganti waw menjadi ya. Seperti dalam hadis tentang haji; al-Jamrah ad-Dunya (                  ) artinya yang dekat dari Mina ( al-Qaribah ila Mina -                            ). Lihat, Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, Kairo : Darul Ma’arif, t.th, jilid 2, h. 1435-7. Senada dengan ini terungkap dalam Mu’jam al-Maqayis fi al-Lughah, karangan Abi al-Husain bin Faris bin Zakaria, Beirut : Darul Fikri, 1994 / 1415, Cet. Ke- 1, h. 366. Ditambahkan oleh Majduddin Muhammad bin Ya’kub al-Fairuzzabadi bahwa ad-dunya (            ) jamaknya dunna-a (            ), padanannya adalah al-Qurba-a (               ). Periksa, Al-Fairuzzabadi, Al-Qamus al-Muhith, Beirut : Darul Jail, t.th, juz 4, h. 330.
[5] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir  Arab – Indonesia, Surabaya : Pustaka Progresif, 1997, Cet. Ke- 14, h. 426.
[6] Muhammad Fuad Abd al-Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Quran, Indonesia : Maktabah Dahlan, t.th, h. 332-5. 
[7] Al- Baqi, Ibid, h. 126 
[8] Ada yang berbicara tentang keberadaan dunia, siksa dunia dan sebagainya.
[9] Termasuk sisipan dhamir kaf (                            ) sebanyak 3 kali serta dhamir kum (           
           ) sebanyak 1 kali.
[10] Umumnya ungkapan ad-dunya disebut diawal, hanya 2 kali penyebutan akhirat mendahului kata ad-dunya yaitu; al-Mukminun : 33 dan al-Qasas : 77.
[11] Mengenai hal diatas hanya 3 tempat yang membicarakannya dalam Alquran terkait dengan tema ini.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, Beirut : Darul Fikri, 1992 / 1412, jilid 4, h. 477 
[13] Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, Beirut : Darul Fikri, 1991 / 1411, juz 23, Cet. Ke- 1, h. 198.
[14] Setan saja yang punya tenaga hebat dibanding manusia dan bersifat gaib seperti malaikat tidak sanggup mencapainya apalagi kita yang sangat lemah ini. 
[15] Beda dengan alam. Kata ini ada terungkap dalam bentuk jamak maka dapat disebut; alam dunia, akhirat, alam kubur dan seterusnya. 
[16] Ayat ini berbicara mengenai dakwah Musa kepada Fir’aun. Musa menghimbau, supaya umatnya jangan sampai tertipu dengan kemewahan Fir’aun serta kaumnya. Sebab kesenangan mereka dilandasi kedurhakaan kepada Allah. Lalu Musa menegaskan bahwa akhirat itulah negeri yang kekal.
[17] Ali Imran : 185
[18] Di awal ayatnya dinyatakan tentang kehidupan sebagai permainan dan dicantumkan kiasan seperti bunga yang segar lalu layu dan hancur. Kemudian di ujung ayat dijelaskan yang demikian adalah kesenangan yang menipu.  
[19] Az-Zuhaili, juz 2, op. cit.,  h. 191 dan 193
[20] Ibnu Katsir, ibid., jilid 1, h. 249
[21] M. Ali as-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, Beirut : Dar al-Quran al-Karim, 1981 / 1401, jilid 1, Cet. Ke- 2, h. 249.
[22] Al-An’am ( 6 ) : 32
[23] Tidak terpesona dengan kehidupan yang melalaikan ini.
[24] Muhammad ( 47 ) : 36
[25] Lihat, al-Hadid ( 57 ) : 20
[26] Padahal hidup yang sangat mereka cintai ini hanyalah permainan ( tidak abadi ).
[27] Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, tt : 1974 / 1394, juz 7, Cet. Ke- 3, h. 86
[28] As- Shabuni, op. cit., h. 386 
[29] Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2002, Vol, 14 , Cet. Ke- 1, h. 37.
[30] Lihat, al-Hadid ( 57 ) : 20
[31] Al-Kahfi : 46
[32] Lihat, at-Taghabun ( 64 ) : 15,  al-Anfal ( 8 ) : 28, Harta dapat menjadi ujian dalam ayat ini disejajarkan dengan anak. Boleh jadi karena anak, seorang berusaha mengumpulkan harta. Artinya secara  umum harta sangat menjadi ujian ketika seseorang sudah berkeluarga. 
[33] Lihat, al-Hadid ( 57 ) : 20
[34] Sedangkan derivasi kata ini ada 6 kali ditemukan yaitu ; tafakhur sendiri = 1 kali  , fakhur = 4 kali , fakhkhar = 1 kali.
[35] As-Shabuni, op. cit., h. 275
[36] Kuatnya dorongan untuk memamerkan harta dan berusaha menimbunnya sampai ajal menjemput. Lihat, at-Takatsur 1-2.
[37] Yunus ( 10 ) : 24, senada dengan ini lihat, al-Kahfi ( 18 ) : 45. Jadi ada 2 ayat yang utuh memuat tamtsilan dunia.
[38] Al-Hadid ( 57 ) : 20
[39] Ada keunikan dalam proses pewahyuan terkait dengan lahw dan laib. Pada masa permulaan turun kata lahw disebutkan terdahulu, masa berikutnya kata la’ib yang didahulukan. Selain itu ada penegasan isim isyarah “ hadzihi “, seperti terungkap diatas. Begitu pula ketika proses pewahyuan tentang menyebutkan kehidupan sebagai kesenangan ( mata’ ), pertama disebutkan mata’ saja baru kemudian ditambahkan dengan al-ghurur.
[40] Maksudnya menerangkan “ itulah beberapa kesenangan dunia “.
[41] Yunus : 23
[42] Al - Mukmin : 39
[43] Al – Qasas  : 60
[44] Ibnu Katsir, op. cit., juz 3, h. 480
[45] Az – Zuhaili, op. cit., h. 165
[46] Lihat, ar-Ra’ad  ( 13 ) : 26, an- Nisa’ ( 4 ) : 77, at – Taubah ( 9 ) : 38. Surat ar- Ra’ad berbicara tentang perbedaan rezki yang diraih manusia yang membawa si kaya lupa diri. Sedangkan an- Nisa’ menjelaskan tentang sifat munafik  yang takut berperang dan memilih kesenangan dunia, senada juga dengan ini at – Taubah dimana Allah mencela orang yang enggan berperang.
[47] Tidak lagi memperhatikan hak orang lain, tidak peduli dengan sesama dan lalai dari beramal untuk akhirat.
[48] Perhatikan, a l - An’am ( 6 ) : 70
[49] Al – A’raf ( 7 ) : 51
[50] Al – Maraghi, op. cit., h. 161
[51] Di dunia sudah tampak akibat jelek yang diterimanya maka di akhirat tentu lebih buruk dari itu. Perhatikan juga Ali Imran ( 3 ) : 56, al – Maidah ( 5 ) : 33, 41 yang berbicara mengenai siksa dunia dan akhirat.
[52] Sebagai realisasi dari doa fid dunya hasanah fi al-akhirah hasanah.
[53] An – Nahl ( 16 ) : 30
[54] Ibnu Katsir, op. cit., juz II, h. 691
[55] Analogi ini ada benarnya. Sebagai kata kunci disini adalah, tiadanya keabadian atau peran yang tetap bagi aktor / pelaku – manusia – itu sendiri. Dalam sandiwara ( sinetron, film dan sebagainya )  sering peran pemainnya berobah – robah / tidak langgeng. Contoh, sekarang berperan sebagai anak, besok sebagai bapak / ibu lalu pada lain waktu sebagai pembantu majikan dan seterusnya. Kedua, peran yang ditampilkan itu adalah palsu artinya tidak sesuai yang aslinya.  Misal, seseorang berperan sebagai pembunuh padahal ia tidak pernah membunuh sama sekali, nanti kesempatan lain sebagai oarng baik lagi dan seterusnya. Begitulah kehidupan dunia ini, pertama kita kecil, lalu tumbuh besar, remaja, dewasa sampai masuk kubur. Berarti peran kita senantiasa berganti dan tidak mungkin seseorang muda terus atau tua terus dan sebagainya.
[56] Lihat, al-Baqarah ( 2 ) : 200 - 201
[57] Hadis bersumber dari Ibnu Abbas.
[58] Ibnu Katsir, op. cit., juz 1, h. 303
[59] As-Shabuni, op. cit., juz 1, h. 130
[60] Lacak. Ali Imaran ( 3 ) : 152
[61] Ali Imran (3 ) : 148
[62] Al – Qasas ( 28 ) : 77
[63] Ayat diatas  merupakan 1 diantara 2 ayat yang yang dijumpai dalam Alquran  dengan mendahulukan kata akhirat dari kata dunia. Ayat terdapat dalam al – Mukminun ( 23 ) : 33 yang menerangkan tentang tindakan para pemuka kafir ditengah kaumnya yang mendustakan hari akhirat dan memang mereka sedang merasakan kemewahan dunia.   
[64] Ibnu Katsir, op. cit.,juz 3, h. 484 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar