Jumat, 16 Maret 2012

ASPEK BAHASA (Sebuah Bukti Kemukjizatan al-Qur’an)


ASPEK BAHASA
(Sebuah Bukti Kemukjizatan al-Qur’an)

 Yusuf Baihaqi *


Abstrak

Aspek bahasa yang dimiliki oleh Al Qur’an merupakan topik awal dan sentral pembahasan para peminat dan pengkaji Al Qur’an semenjak Al Qur’an itu pertama kali diturunkan dan akan terus berkelanjutan sampai akhir zaman, hal ini tidaklah mengherankan dikarenakan dengan pendekatan bahasa lah makna dan rahasia yang terkandung dalam kalamullah dapat terkuak. Sebagaimana dalam topik kemu’jizatan Al Qur’an, sesungguhnya aspek bahasa lah yang menjadi objek perhatian para begawan dan sastrawan arab disaat mereka ditantang dan diminta untuk mendatangkan semisal nya.

Kata Kunci: Bahasa, Mu’jizat, al-Qur’an



Pendahuluan.
    Terlepas dari perbedaan ulama dalam mengidentifikasi aspek-aspek kemu’jizatan Al Qur’an, mereka semua sepakat untuk memasukkan aspek bahasa menjadi bagian dari aspek kemu’jizatan yang terkandung dalam Al Qur’an.
Kesepakatan mereka dalam hal ini adalah bukti nyata bahwasannya aspek bahasa merupakan aspek yang terkandung didalamnya tantangan untuk mendatangkan semisal Al Qur’an, sebagaimana ia juga merupakan aspek terdepan, terjelas dan terpenting dibandingkan dengan aspek-aspek lain –hukum, sejarah, ilmu pengetahuan, dll ...- yang dimiliki oleh Al Qur’an, atau bahkan tidak berlebihan kalau kami katakan bahwasannya aspek bahasa merupakan satu-satunya aspek kemu’jizatan yang dimiliki oleh Al Qur’an itu sendiri.
Berdasarkan pentingnya pembahasan tersebut, penulis berupaya dalam tulisan ini untuk membuktikan akan kandungan aspek kemu’jizatan Al Qur’an dari aspek bahasa tersebut, dengan terlebih dahulu membahas tentang kemunculan ilmu bahasa dengan segenap teori dan hukum yang dihasilkannya sebagai implikasi dari diturunkannya Al Qur’an sebagai kitab suci kaum Muslimin dan seberapa pengaruhnya terhadap penafsiran Al Qur’an, kemudian diterangkan juga bukti-bukti kemu’jizatan Al Qur’an pada aspek bahasa disamping juga macam dan ragam yang dimilikinya, sebagaimana pada akhir pembahasan diungkap beberapa karya tafsir yang memiliki andil yang sangat signifikan dalam mengungkap banyak rahasia Al Qur’an dalam aspek bahasa yang dimilikinya.
Demikian, semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran dan bukti akan kemu’jizatan bahasa Al Qur’an, sehingga kita lebih termotivasi untuk lebih dekat dengan kitab suci kita dan mengkaji lebih dalam akan aspek bahasa yang dimilikinya.    

Kemunculan Ilmu Bahasa Dan Pengaruhnya Terhadap Penafsiran Al Qur’an.
     At Tafsir Al Lughawi (tafsir bahasa) merupakan sebuah metodologi tafsir Al Qur’an yang berorientasi untuk menguak makna, rahasia dan hikmah yang terkandung dalam sebuah ayat dengan menggunakan pendekatan ilmu bahasa, karena teks Al Qur’an dalam pandangan mereka yang menggunakan pendekatan ini bukan saja sebatas teks agama, melainkan juga teks sastra yang memiliki kandungan mu’jizat([1]).
    Kaum muslimin sepanjang sejarahnya tidaklah pernah bosan dalam berupaya memahami teks Al Qur’an sebagaimana mereka juga selalu terbuka untuk mengexplore (menjelajahi) segenap makna yang terkandung dalam teks tersebut, fenomena ini telah dimulai semenjak diutusnya nabi Muhammad SAW dan masih terus berlangsung sampai saat ini.
     Dan komunitas masyarakat yang paling intense (gigih dan bersemangat) dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, baik secara bacaan, pemahaman dan amalan adalah komunitas sahabat rasulullah SAW, dimana pertanyaan pertama yang mereka lontarkan terhadap baginda rasulullah SAW dalam upaya untuk memahami teks Al Qur’an adalah seputar makna kata yang terdapat di luar bahasa mereka, atau seputar makna kata yang selama ini tidak dipakai dan dikenal dalam bahasa mereka, atau ketika makna kata yang dikehendaki oleh Al Qur’an adalah makna yang tidak seperti apa yang mereka pahami selama ini. Adapun dari sisi uslub (style/gaya) bahasa, sesungguhnya mereka dapat memahaminya dengan baik dan cakap, dimana dari pemahaman mereka inilah timbulnya mu’jizat Al Qur’an, dikarenakan mereka semuanya tunduk tak berdaya dihadapan tingginya kandungan bahasa yang dimiliki oleh Al Qur’an tersebut.
   Sepeninggalnya rasulullah SAW, kaum muslimin pun banyak yang bertanya kepada para sahabat seputar makna kata-kata yang terdapat dalam Al Qur’an, dengan harapan mereka telah mengetahuinya langsung dari rasulullah SAW, atau dikarenakan mereka mengetahui secara percis akan kondisi apa yang melatar-belakangi sebuah teks Al Qur’an itu diturunkan, sehingga dapat terkuak akan makna samar yang terkandung dalam teks tersebut.
    Abdullah bin Abbas RA merupakan sosok sahabat yang paling banyak ditanya. Dimana ketika beliau ditanya seputar makna kata-kata yang terdapat dalam Al Qur’an, beliau pun menjawab dengan apa yang dimaksudnya dari sisi bahasa, seperti jawabannya atas makna kata “ ءاذنــك ” dalam surah Fushshilat [41] : 47, bahwa yang dimaksud dengannya adalah “  أعلمناك ([2]).
Bahkan kita dapatkan Abdullah bin Abbas RA dalam menafsirkan makna kata-kata Al Qur’an sering sekali ia menguatkan dan membenarkan penafsirannya dengan merujuk kepada apa yang dikatakan oleh bangsa arab dalam syair-syair mereka, seperti ketika ia ditanya tentang makna “ الوسيلة ” dalam surah Al Ma’idah [5] : 35, ia berkata bahwa yang dimaksud dengannya adalah “ الحاجة ”, makna inilah sebagaimana yang terdapat dalam sya’ir ‘Antarah (salah seorang bagawan sya’ir arab)([3]).
     Semacam apa yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Abbas RA diatas merupakan langkah awal bagi tumbuh suburnya orientasi At Tafsir Al Lughawi dalam penafsiran al Qur’an, dimana semua kajian di dalamnya beredar seputar pemaknaan dan pemahaman Al Qur’an serta penjelasan akan tujuan dan gaya pemaparannya. Dan Al Qur’an dalam hal ini sebagai pusat dan sumber kajian diatas, dimana pembahasan seputar i’rab (sintaksis) dari ayat yang ditafsirinya adalah dalam rangka untuk menjauhkan kesalahan pelafazhan (pengucapan), dan pembahasan seputar gaya pemaparannya adalah dalam rangka untuk menarik perhatian pembacanya sehingga mereka mendapatkan petunjuk dengannya.
     Kajian nahwu pun terlahir oleh Abu Al Aswad Ad Du’ali, namun masih dalam bentuknya yang sederhana, sampai tumbuh dan meluas pembahasannya dan memiliki teori-teori dan istilah-istilah dan pusat kajian-pusat kajian yang telah banyak menghasilkan khazanah keilmuan yang dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan akal pikiran manusia dalam rangka memaknai dan memahami kitab sucinya.
    Sejalan dengan perjalanan waktu, kajian nahwu dan bahasa pun masuk dalam ranah kajian keislaman, dan menjadikan kajian seputarnya sebagai keharusan dan bagian yang tak bisa terlepaskan bagi yang berkehendak untuk memahami teks al Qur’an dan syariat Islam, hal ini dikarenakan banyaknya orang yang masuk dan memeluk ajaran agama Islam, jauhnya bangsa Arab dari era risalah kenabian dan terjadinya proses asimilasi (percampuran) antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain non Arab yang menghasilkan sebuah generasi yang tidak cakap dalam memahami bahasa nenek moyangnya kecuali dengan mengkaji teori-teori dan istilah-istilah yang terdapat di dalamnya.
     Dari sinilah masuk istilah-istilah ilmu nahwu dalam kajian Al Qur’an, khususnya dalam memahami teks Al Qur’an. Sebagaimana perbedaan pendapat antara para pakar nahwu juga terlihat jelas dalam penafsiran sebagian teks Al Qur’an dan berimplikasi terhadap terjadinya pengelompokan pada Al Madrasah An Nahwiyyah (madzhab nahwu), dimana setiap madzhab akan berbeda dengan madzhab lainnya dalam beristimbath (mengambil hukum dan kesimpulan) dan memaknai sebagian  teks Al Qur’an tersebut.
    Demikian sekilas perjalanan sejarah At Tafsir Al Lughawi atau kajian bahasa pada masa-masa awalnya, dimana semuanya menjadikan teks Al Qur’an sebagai pusat kajian mereka, dan hal ini sangatlah logis dikarenakan bahasa Al Qur’an merupakan asal dan asas bagi segenap tarakib (structure/susunan) dan kata dalam bahasa arab([4]).

Kenapa Aspek Bahasa merupakan Bukti Akan Kemu’jizatan Al Qur’an?
    Dalam perjalanan sejarahnya, bangsa Arab sangatlah terkenal dengan kemampuan bahasa mereka yang sangat tinggi, dimana semakin tinggi kemampuan mereka dalam mengetahui dan menguasai aspek bahasa mereka, semakin terbuka pula tabir kandungan kemu’jizatan Al Qur’an, sehingga merekapun tunduk dan mengakui akan kehebatan kandungan bahasa yang dimiliki Al Qur’an.
     Fenomena diatas berlaku sebaliknya bagi mereka yang merasa hebat dan terpedaya dengan kemampuan dirinya, seperti yang pernah diklaim oleh Musailamah Al Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi sepeninggalnya rasulullah SAW dan berusaha untuk meniru dan menantang semisal Al Qur’an, akan tetapi klaim tersebut berakhir dengan kegagalan, bahkan mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat arab([5]), sejarah pun mencatat bahwa semenjak diturunkan ayat yang berisikan tantangan untuk mendatangkan semisal Al Qur’an sampai sekarang dan insyaallah akan berkelanjutan sampai hari kiamat, belum ada dan tidak akan ada, baik dari kalangan manusia maupun jin yang mampu dan akan berhasil mendatangkan semisalnya ditilik dari aspek bahasa yang dimilikinya, sesungguhnya ketidakmampuan mereka yang notabene merupakan para pakar dan begawan bahasa untuk mendatangkan semisal Al Qur’an ini dan upaya mereka untuk menutupi ketidak-mampuan tersebut dengan lebih memilih berperang di medang peperangan, merupakan sebuah bukti pembenar akan kandungan mu’jizat yang dimilikinya, sungguh benar apa yang difirmankan dalam Al Qur’an :

(Katakanlah : “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”)([6]).

     Sangat tidak logis dan realistis kalau ada yang berpendapat bahwasannya mendatangkan semisal Al Qur’an adalah sesuatu yang memungkinkan akan tetapi tidaklah terdapat urgenitas (kebutuhan) untuk mendatangkan semisalnya. Sejarah telah mencatat bahwa banyak faktor yang semestinya mendorong kaum Musyrikin untuk menantang dan mendatangkan semisal Al Qur’an, bukankah mereka selalu mengingkari sosok rasulullah SAW dan dakwah kenabian yang dibawanya?, sebagaimana berbagai cara untuk membungkam dakwah beliau pun mereka lakukan : mereka tawarkan beliau harta dan jabatan, mereka boikot beliau dan segenap pengikutnya, mereka menuduh beliau sebagai seorang yang gila dan terkena sihir bahkan mereka mengadakan konspirasi sesama mereka untuk menahan, membunuh dan mengusir beliau.
Apa yang semua mereka lakukan tersebut sama sekali tidaklah mampu dan berhasil untuk membungkam seruan dakwah beliau, padahal mereka telah ditawarkan untuk memilih sebuah cara yang jauh lebih gampang dan praktis -kalau saja mereka mampu- untuk membungkamnya, yakni dengan mendatangkan semisal apa yang beliau datangkan kepada mereka, yaitu : Al Qur’an Al Karim. Akan tetapi tawaran ini tidaklah mereka lirik dan lakukan, dan tidaklah keenganan mereka ini melainkan sebagai sinyal kuat akan ketidak mampuan mereka([7]), padahal Al Qur’an yang diminta kepada mereka untuk mendatangkan semisalnya tidaklah diturunkan melainkan juga dengan menggunakan bahasa yang selama ini mereka kenal dan pergunakan dalam keseharian mereka, Allah  SWT berfirman :    
      
 (Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa arab, agar kamu memahaminya)([8]).

    Sejarah juga telah mencatat betapa dahsyat pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh Al Qur’an secara spontanitas, baik dalam diri kaum Musyrikin lebih-lebih lagi dalam diri kaum Mu’minin. Kisah bagaimana proses Umar bin Al Kaththab memeluk agama Islam, ketika amarahnya telah memuncak, kemudian ia membaca beberapa ayat dalam surah Thaha, ia pun kemudian tidak dapat menyembunyikan rasa kekagumannya atas redaksi yang dimiliki oleh Al Qur’an, kemarahan pun secara spontan berubah padam sebagaimana air memadamkan panasnya api, hidayah Islam pun masuk dalam dirinya dari arah yang tidak disangka-sangka.
    Apa yang terjadi atas diri Umar bin Al Kaththab sesungguhnya sama dan tidaklah berbeda jauh dengan apa yang terjadi atas diri Al Walid bin Al Mughirah, dimana pengetahuannya yang luas akan seluk-beluk bahasa arab mengantarkanya setelah mendengarkan lantunan Al Qur’an yang dibaca oleh rasulullah SAW untuk mengeluarkan sebuah pernyataannya yang masyhur tentang Al Qur’an :

 " والله إن لقوله لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أسفله لمغدق وإن أعلاه لمثمر ما يقول هذا بشر "

(Demi tuhan, sungguh indah dan tersusun rapi perkataan (Al Qur’an) yang dilantunkannya, kalau diibaratkan seperti pohon maka tanah dibawahnya sangatlah subur, sebagaimana diatasnya produktif menghasilkan buah, tidaklah mungkin perkataan seperti ini dikatakan (diciptakan) oleh seorang manusia).
    
Demikianlah, dimana saat manusia berupaya untuk lebih memperhatikan Al Qur’an, ia akan mendapatkan rahasia-rahasia yang terkandung dalam kemu’jizatan Al Qur’an pada aspek bahasa yang dimilikinya. Sebagaimana fenomena mena’jubkan yang terdapat dalam bahasa Al Qur’an inilah yang mendorong banyak ulama untuk mengatakan : “Sesungguhnya bahasa Al Qur’an adalah bahasa arab yang tidak asing dan telah banyak dikenal oleh bangsa arab, sebagaimana pada saat yang bersamaan bahasa Al Qur’an  juga bukanlah merupakan bahasa mereka”.
    Ia merupakan bahasa bangsa arab yang telah dikenal oleh mereka, karena terdapat kesamaan dalam hal materi dan tata-bahasa yang dimiliki oleh keduanya. Dimana lafazh yang terdapat dalam bahasa Al Qur’an tidaklah keluar dari lafazh yang terdapat dalam bahasa arab, sebagaimana dari sisi tarkib pun demikian. Atas dasar itulah, tidak kita dapatkan seseorang dari bangsa arab yang menolak arabisme (sifat kearaban) yang melekat pada lafazh-lafazh yang terdapat dalam Al Qur’an atau mengkritiki susunan kalimatnya.
    Adapun bahwasannya bahasa Al Qur’an adalah berbeda dengan bahasa arab adalah dikarenakan beberapa faktor di bawah ini :
-          Sesungguhnya al Mufradat (koso-kata) yang dimiliki oleh bahasa Al Qur’an walaupun ia termasuk bagian dari  al Mufradat  yang dimiliki oleh bahasa arab, akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal makna yang dimaksud, karena bisa jadi makna yang terkandung dalam bahasa Al Qur’an tidak demikian dalam bahasa arab atau bahkan tidak pernah sebelumnya ditunjukkan oleh bahasa arab, hal ini sangatlah dimungkinkan karena bahasa Al Qur’an pada hakekatnya merupakan intisari dari bahasa arab tersebut. 
-          Apabila bahasa arab merupakan media komunikasi antara bangsa arab atau mereka yang mempelajari bahasa arab yang kesemuanya merupakan bagian dari unsur sesama manusia, maka sesungguhnya bahasa Al Qur’an merupakan media komunikasi antara individu-individu manusia dengan Dzat pencipta alam semesta ini. Atas dasar itu dan pada sisi ini terdapat perbedaan yang mendasar antara bahasa arab dengan bahasa al Qur’an, baik ditilik dari sisi uslub, tarkib dan pemilihan lafazh-lafazhnya. Sebuah perkara dimana dikarenakannya, segenap makhluk-Nya tidak memiliki kemampuan untuk menirukannya atau mendatangkan walau semisal satu surat terpendek darinya.
Atas dasar itu sangatlah tidak adil bagi bahasa al Qur’an apabila memiliki semacam kekhususan diatas untuk disamakan dan disejajarkan dengan bahasa arab yang memiliki keterbatasan baik dari sisi makna, uslub  maupun tarkib, dimana keterbatasan yang dimiliki oleh bahasa arab ini sangat dimungkinkan untuk ditiru atau didatangkan yang lebih baik baik darinya baik dari sisi bayan (kejelasan) atau balaghah (kefasihan)nya.   
-          Sesungguhnya tarkib yang dimiliki oleh bahasa Al Qur’an walaupun sejalan dengan tarkib yang dimiliki oleh bahasa arab, akan tetapi bahasa Al Qur’an sangatlah berbeda dengan bahasa arab baik dari sisi bayan dan balaghah maupun dari sisi badi’ (retorika) yang dimilikinya, sebagaimana dahsyatnya pengaruh yang ditimbulkan oleh Al Qur’an, yang telah mampu memberikan penerangan atas alam jagat raya ini juga pencerahan atas diri manusia, tidaklah mungkin fenomena ini ditimbulkan melainkan oleh sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan secara terperinci dan diturunkan dari Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.
Atas dasar itulah, bahwasannya tarkib yang dimiliki oleh bahasa Al Qur’an sangatlah berbeda dengan tarkib yang dimiliki oleh bahasa arab, baik dari aspek makna, cara penyampaian maupun visi dan misinya, disamping apa yang terkandung dalam redaksi Al Qur’an dari hikmah dan rahasia Ilahiyyah yang tidak terdapat dalam bahasa arab.    
-          Sesungguhnya uslub yang dipakai oleh bahasa Al Qur’an dalam menggambarkan makna yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah uslub tersendiri yang tidak pernah dikenal oleh bangsa arab sebelum Al Qur’an itu diturunkan, bahkan sampai sekarang dan akan berkelanjutan sampai akhir umur dunia ini tidaklah akan mampu seseorang untuk menirukannya.
Uslub yang dimiliki oleh bahasa Al Qur’an benar-benar berbeda dengan uslub yang sudah dikenal oleh bangsa arab, baik yang berupa sajak, prosa, kisah, perumpamaan juga korespondensi. Ia sangatlah berbeda dengan apa yang telah dimiliki dan dikenal oleh bangsa arab dari macam-macam bentuk tulisan dan perkataan. Atas dasar itulah tidaklah benar kalau sebuah uslub yang memiliki keistimewaan dan kekhususan tersebut untuk disifati dan dinamakan melainkan dengan uslub Al Qur’an itu sendiri.

Apabila bahasa Al Qur’an sangatlah kental dengan aroma yang bersifat ilahi (ketuhanan) dikarenakan kekhususan dan keistimewaan yang dimilikinya tersebut, tidakkah objektif bagi kita untuk mengatakan “Bahwasannya bahasa Al Qur’an adalah lain dan berbeda dengan bahasa  arab?”. Sebagaimana At Tasyabuh Azh Zhahir (kemiripan yang tampak) antara keduanya dalam bentuk, tidaklah berarti menafikan perbedaan antara keduanya yang lebih bersifat substansif dan hakiki, seperti halnya kemiripan antara sebuah patung dengan gambar seseorang manusia, juga tidaklah berarti bahwa antara keduanya adalah sama, sebagaimana sangatlah mustahil bagi sebuah patung untuk dikatakan bahwasannya ia adalah seseorang manusia([9]).
Kesimpulannya adalah : Bahwasannya bahasa Al Qur’an secara lisan (pengucapan) memiliki kesamaan dengan bahasa arab, akan tetapi tidaklah demikian dalam aspek sifat (karakteristik) yang dimiliki oleh keduanya. Dikarenakan bahasa arab merupakan produk manusia yang memiliki sisi positif dan negatif, tentunya tidaklah demikian dengan bahasa Al Qur’an yang merupakan produk tuhan.    

Macam-Macam Al I’jaz Al Bayani.
    Istilah yang sering digunakan dalam kajian Al Qur’an untuk penisbatan aspek kemu’jizatan Al Qur’an dari sisi bahasanya adalah Al I’jaz Al Bayani, adapun pembahasan Al I’jaz Al Bayani itu sendiri meliputi huruf, kata dan kalimat yang terkandung dalam Al Qur’an ditilik dari sisi uslub (style/gaya), bayan (kejelasan) dan balaghah (kefasihan)nya. Inilah hakekat dari Al I’jaz Al Bayani, sehingga banyak diantara ulama yang mengklasifikasikannya menjadi tiga (3) aspek([10]) :

Pertama, aspek penaruhan huruf dan rahasia yang terkandung di dalamnya.
Sebagai contoh adalah pemakaian huruf " ن " yang dalam bahasa arab dipakai untuk menunjukkan orang banyak dan mencakup si pembicara dan juga banyak orang lain, yakni dalam firman-Nya :

 (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)([11]).

    Kalaulah kita cermati, kenapa redaksi pada ayat diatas tidak berbunyi Iyyaka A’budu Wa Iyyaka Asta’in (hanya Engkaulah yang saya sembah dan hanya kepada Engkaulah saya mohon pertolongan), hal ini dikarenakan terdapat rahasia dan hikmah Ilahiyyah yang melatar-belakangi pemakaian shighat al jam’i (format orang banyak) pada kata " نعبد " diatas, dan diantara beberapa rahasia dan hikmah Ilahiyyah yang terkandung di dalamnya adalah :
-          Kebaikan dan keutamaan yang terdapat dalam pelaksanaan shalat berjama’ah, dan atas hikmah itulah kenapa shighat al jam’i yang menunjukkan orang banyak dipakai pada redaksi ayat diatas. Disabdakan dalam sebuah hadits rasulullah SAW dari sahabat Ibnu Umar RA seputar konteks kebaikan dan keutamaan yang terdapat dalam pelaksanaan shalat berjama’ah :
صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة .
(Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh (27) derajat)([12]).
-          Manusia merupakan makhluk sosial dan diantara cara yang dipakai Al Qur’an dalam mendidik manusia pada aspek sosial yang dimilikinya adalah dengan menanamkan rasa ukhuwah (persaudaraan) dan kebersamaan diantara mereka([13]), dan pelaksanaan ibadah shalat secara berjama’ah adalah dalam rangka untuk menumbuh-suburkan rasa persatuan dan kebersamaan diantara umat([14]).
-          Ketika seseorang melakukan shalat secara berjama’ah, sesungguhnya kebersamaan itu terjalin bukan sebatas sesama umat manusia saja, akan tetapi kebersamaan dalam berdoa dan bertasbih kepada Dzat pencipta yang Esa juga terjalin antar segenap ciptaan-Nya baik yang di bumi maupun yang di langit([15]), dan  pemakaian shighat al jam’i (format orang banyak) pada kata       " نعبد " diatas menunjukkan akan hakekat tersebut. Difirmankan dalam Al Qur’an :

(Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan)([16]).

    Demikianlah, bagaimana sebuah huruf secara teliti dan detail dipilih, sebagaimana terdapat rahasia dan hikmah Ilahiyyah dalam setiap peletakannya dalam redaksi Al Qur’an, ini semuanya menjadi bukti penguat akan kemu’jizatan Al Qur’an pada aspek bahasanya. 

Kedua, aspek konotasi kata dan rahasia yang terkandung di dalamnya.
Kita ketahui bahwasannya para ulama berbeda pendapat dalam hal ada tidaknya konsep At Taraduf (sinonim) kata dalam sebuah bahasa, dalam konteks bahasa arab konsep tersebut dapat kita temukan walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit, dikarenakan mayoritas kata yang dianggapnya memiliki kesamaan makna, sesungguhnya memiliki pembeda antara satu dan yang lainnya, seperti penggunaan kata " القعود " dan " الجلوس " atau antara kata " الخوف " dan " الخشية " yang oleh banyak pihak dinyatakan sebagai sebuah bentuk At Taraduf, padahal tidaklah demikian pada kenyataannya.
     Akan tetapi dalam konteks Al Qur’an, bisa kami katakan tidak terdapat dalam setiap redaksi yang dipakainya dua kata yang berbentuk At Taraduf secara mutlak, dikarenakan Al Qur’an dalam setiap uslub yang dipakainya selalu memperhatikan secara detail akan perbedaan yang terdapat dalam setiap kata, disamping penaruhan setiap kata dalam Al Qur’an juga disesuaikan dengan konteks dan maknanya.   
    Sebagai contoh adalah penggunaan dan pemilihan Al Qur’an kata " حرث " ketika hendak mengumpamakan isteri-isteri bagi suami mereka, dan tidak menggunakan beberapa kata yang lain, seperti kata " الأرض " atau " الحقـل " dan yang sejenisnya dari kata-kata yang memiliki kedekatan makna dengannya. Yakni dalam firman-Nya :

 (Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki)([17]).


    Kalaulah kita perhatikan, penggunaan dan pemakaian Al Qur’an kata " حرث " pada ayat diatas dan bukan yang lainnya dari kata-kata yang memiliki kedekatan makna dengannya, dikarenakan terdapat sebuah perumpamaan yang indah, tepat dan halus dalam menggumpamakan antara hubungan seorang petani dengan ladangnya dan seorang suami dengan isterinya, dan antara buah yang dihasilkan oleh ladang tersebut dan buah yang dihasilkan oleh seorang isteri, demikian pula persamaan yang terdapat diantara keduanya berupa proses perkembang-biakan, pertumbuhan dan pemakmuran.
    Rahasia dan hikmah yang terkandung dalam penggunaan kata " حرث " pada ayat diatas inilah yang tidak kita dapatkan pada kata-kata selainnya, walaupun secara makna kata-kata tersebut memiliki kedekatan. Dikarenakan kata " الأرض " bisa saja berupa tanah yang tandus yang tidak pas dan efektif untuk dijadikan sebagai lahan untuk bercocok-tanam. Demikian pula kata " الحقل ", dikarenakan makna kata ini tidaklah menunjukkan akan sebuah proses dan usaha dari si pemiliknya, melainkan kata tersebut menunjukkan akan sesuatu yang sudah jadi dan siap, tidak ada di dalamnya proses penanaman bibit oleh si pemiliknya.
    Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwasannya Al Qur’an dalam memilih kata-kata yang memiliki kedekatan secara makna, ia memilih mana diantaranya yang paling pas, akurat dan tepat dalam menggambarkan makna yang dimaksudnya, disamping juga mana diantara kata-kata tersebut yang terindah dan terenak dalam pendengaran dan pengucapannya([18]).
       
   Ketiga, aspek uslub kalimat dan rahasia yang terkandung di dalamnya.
Sebagai contoh adalah firman Allah SWT :

(Dan jika mereka ditimpa sedikit saja adzab tuhanmu)([19]).

   Kalimat dalam firman Allah SWT tersebut sejatinya dipaparkan untuk memperlihatkan adzab-Nya kelak di akherat dan betapa sekecil apapun itu adzab, ternyata pengaruh dan rasa sakit yang dapat ditimbulkannya sangatlah hebat dan luar biasa sehingga mereka yang kerap berbuat zhalim pun ketika dihadapkan dengan semacam adzab tersebut, mengumpat diri mereka sendiri dan mengakui akan kezhaliman yang kerap mereka lakukan sewaktu di dunianya. Atas dasar itulah kita dapatkan semua komponen kalimat diatas menunjukkan akan sesuatu yang kecil dan sedikit, akan tetapi memiliki efek jera yang sangat hebat dan luar biasa, dan pengungkapan dengan semacam redaksi tersebut membuktikan akan kebenaran rahasia Illahi yang terkandung dalam kalimat tersebut :
-          kata " لئن " menunjukkan keragu-raguan, ketika seseorang melakukan sesuatu dibarengi dengan sikap ragu berarti ia melakukannya dengan sedikit dan tidak banyak, karena ia masih mencoba-coba antara melakukan atau tidak melakukan.
-          Kata " مسّ " yang berarti mengenai dengan sedikit, hal ini tentunya juga menunjukkan akan sesuatu yang sedikit.
-          Kata " نفحة " materinya berupa bau yang sepintas lalu, dan ini menunjukkan sesuatu yang sedikit, sebagaimana bentuk katanya yang menunjukkan akan sesuatu yang satu, yakni yang satu dan kecil, apalagi harakat tanwin pada kata " نفحة " yang bersifat nakirah dalam bahasa arab juga menunjukkan akan sesuatu yang sangat kecil sekali sehingga tidak dapat diidentifikasi dan diketahui.
-          Kata " من " berarti sebagian atau bagian dari sesuatu, hal ini juga menandakan akan sesuatu yang sedikit.
-          Kata " عذاب " menginspirasikan akan sesuatu yang ringan dari sebuah hukuman bila dibandingkan dengan makna yang terkandung dalam semacam kata " النكال " atau " العقاب " , hal ini juga menandakan akan sesuatu yang sedikit dan ringan.
-           Kata " ربك " digunakan dalam redaksi ayat diatas dan tidak digunakan semacam kata  " القهار "" الجبار " atau " المنتقم " juga untuk mengesankan kepada segenap pembaca, bahwasannya adzab yang diturunkan barulah sebatas adzab yang ringan, dikarenakan kata " ربك " itu sendiri mengandung makna belas kasih sayang.

Demikianlah bagaimana sesungguhnya redaksi kalimat pada ayat diatas semuanya menunjukkan : kalau saja adzab tuhan yang baru sedikit dan ringan sangatlah pedih dan membekas, maka bagaimana gambaran akan pedih dan dahsyatnya adzab tuhan itu secara keseluruhan? Demikianlah dapat kita perhatikan bagaimana terjadi sebuah korelasi yang sangat apik dan rapi dalam sebuah redaksi kalimat Al Qur’an, dimana terdapat kekompokan dalam semua komponen yang terdapat didalamnya, sebagaimana setiap komponen yang terkandung di dalamnya juga saling mendukung dan menyatu dalam mencapai sebuah maksud yang hendak dicapai([20]).    
    
Karya Ilmiah Yang Banyak Mengungkap Aspek Bahasa Yang Dimiliki Oleh Al Qur’an.

   Ada banyak karya ilmiah yang telah dihasilkan oleh para pakar bahasa seputar tema diatas, sebagaimana objek kajian bahasa pada masa-masa awal adalah seputar Al Qur’an itu sendiri, sehingga tidaklah terlalu mengherankan kalau telah banyak karya ilmiah yang terlahir dari mereka seputar tema diatas semenjak beberapa abad yang silam. Sebagai contoh adalah:
Pertama, karya Al Farra yang berjudul “Ma’ani Al Qur’an”, karya ini pada asalnya merupakan karya dalam bidang bahasa dan sebuah referensi penting bagi para peminat studi bahasa, melainkan masuk dalam katagori sebuah karya tafsir dikarenakan penulisnya memaparkan dalam karyanya ini sisi-sisi penafsiran ayat Al Qur’an walaupun hanya dengan menggunakan pendekatan bahasa, ia juga sering memaparkan asbabun nuzul dan Wajh Al Munasabat (aspek korelasi) dari sebuah ayat, sebagaimana yang menjadi konsentrasinya dalam karyanya ini adalah pembahasan seputar i’rab (sintaksis) dari ayat yang ditafsirinya([21])

Kedua, karya Abu Hayyan yang berjudul “Al Bahr Al Muhith”, karya ini sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama merupakan referensi pertama dan terpenting bagi para peminat dan pemerhati seputar pembahasan i’rab dari kata per kata yang terdapat dalam Al Qur’an, dikarenakan pembahasan seputar ilmu nahwu merupakan konsentrasi dari penulisnya dalam karyanya ini, hal ini dikarenakan ia merupakan seorang begawan dalam ilmu nahwu. Akan tetapi walaupun demikian secara objektif dapat dikatakan bahwasannya dalam karyanya ini sang penulis terlalu jauh membahas seputar ilmu nahwu dengan mengexplore banyak perbedaan pendapat diantara pakar ilmu nahwu, sehingga terkesan karyanya ini lebih dekat untuk dikatagorikan sebagai sebuah karya dalam bidang ilmu nahwu dibandingkan dengan sebuah karya dalam bidang ilmu tafsir([22]).
  
Ketiga, karya Az Zamakhsyari yang berjudul “Al Kasysyaf ‘An Haqaiq Wa Ghawamidh At Tanzil Wa ‘Uyun Al Aqawil Fi Wujuh At Ta’wil”, karya ini terlepas dari latar belakang ideologi penulisnya yang bermadzhab Mu’tazilah, ia merupakan sebuah karya tafsir monumental, dikarenakan sang penulis berupaya dalam karyanya ini untuk mengungkap aspek-aspek kemu’jizatan Al Qur’an di samping upayanya untuk menerangkan keindahan kandungan Al Qur’an baik dari sisi nazhm (puisi & sajak) maupun balaghah (kefasihan)nya([23]).


Kesimpulan.

   Sesungguhnya penguasaan akan bahasa arab merupakan hal yang sangat urgent (penting) bagi siapa saja yang berkehendak untuk menafsirkan teks Al Qur’an, apalagi untuk mengetahui dan membuka maksud diturunkannya, rahasia yang terkandung didalamnya dan aspek kemu’jizatan yang dimilikinya.
   Ketidakmampuan manusia dan jin untuk mendatangkan semisal satu surah terpendek saja dari Al Qur’an adalah bukti kuat akan kemu’jizatan Al Qur’an, dan bahwasannya ia benar merupakan kalamullah, sebagaimana nabi yang diutus untuk membawanya juga benar merupakan utusan Allah.
   Banyak faktor yang melatar-belakangi ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan semisal satu surah terpendek dari Al Qur’an, bukan saja dikarenakan Dzat yang menantangnya adalah Dzat yang Maha segala-galanya dan pencipta alam semesta ini, akan tetapi juga dikarenakan tidak ada satu pun di tilik dari aspek bahasa yang digunakannya, dapat untuk disejajarkan apalagi ditandingi dengan bahasa-bahasa yang dimiliki oleh segenap makhluk-Nya, bahkan sampai bahasa arab yang oleh sebagian orang dipahami memiliki kesamaan dengan bahasa Al Qur’an, sesungguhnya ketidakmampuan mereka adalah bukti kuat bahwa diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat substansif dan mendasar.  



Referensi :

Al Qur’an Al Karim.
Al Qur’an Dan Terjemahannya, Departemen Agama R I, Penerbit : Gema Risalah Press.
Muslim bin Al Hajjaz, Shahih Muslim, Penerbit : Ihya At Turats Al ‘Arabi, cet. 1972 M.
M Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Gharib Al Qur’an, Penerbit : Isa Al Babi Al Halabi.
As Sayyid Khalil, Dirasat Fi Al Qur’an, Dar Al Ma’arif, cet. 1972 M.
Dr Musa’id Muslim, Atsar At Tathawwur Al Fikr Fi At Tafsir Fi Al ‘Ashr Al ‘Abbasi, Penerbit : Ar Risalah, cet. 1984 M.
Manna’ Al Qaththan, Mabahis Fi Ulum Al Qur’an, Penerbit : Wahbah, cet. Ketujuh (1990 M).
Dr Abdul Jalil Abdur Rahim, Lughah Al Qur’an, Penerbit : Ar Risalah Al Haditshah, cet. Pertama (1980 M).
‘Aisyah Abdurrahman, Al I’jaz Al Bayani Fi Al Qur’an Wa Masail Nafi’ Bin Al Azraq, Penerbit : Al Ma’arif, cet. 1971 M.
Dr. M Utsman Khaimar, Manhaj Al Qur’an Fi Tarbiyah Al Insan, Penerbit : Muassasah Al Arabiyyah Al Haditsah.
Sa’id An Noursi, Al Maktubat, Tarjamah : Ihsan Qashim, Penerbit : Sozler, cet. Ketiga (1993 M).
Sa’id An Noursi, Al Kalimat, Tarjamah : Ihsan Qashim, Penerbit : Sozler, cet. Kedua (1992 M).
Khalid Abdurrahman, Al Furqan Wal Qur’an, Penerbit : Al Hikmah, cet. Pertama (1994 M).
Dr M Husain Adz Dzahabi, At Tafsir Wa Al Mufassirun, Penerbit : Wahbah, cet. Keenam (1995 M).







           
           


* Lahir di Indramayu, 03 Juni 1973. Alumni KMI, Gontor (1993) dan Ma’had Li Tahfizh Al Qur’an, Kaliurang Yogyakarta (1996). Menyelesaikan S1 pada spesifikasi Tafsir & Ulumul Qur’an di Universitas Al Azhar, Cairo Mesir (2000), S2 pada spesifikasi yang sama di Universitas Islam Oumdurman, Khartoum Sudan (2003) dan S3 juga pada spesifikasi yang sama di Universitas Al Qur’an Al Karim, Khartoum Sudan (2006). Saat ini aktif mengajar di Fakultas Ushuluddin, Syari’ah dan Program Pasca Sarjana IAIN Raden Intan Bandar Lampung.
[1] As Sayyid Khalil, Dirasat Fi Al Qur’an, Dar Al Ma’arif, hal. 70, cet. 1972 M.
[2] M Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Gharib Al Qur’an, Penerbit : Isa Al Babi Al Halabi, hal. 4.
[3] M Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Gharib Al Qur’an, hal. 290.
[4] Dr Musa’id Muslim, Atsar At Tathawwur Al Fikr Fi At Tafsir Fi Al ‘Ashr Al ‘Abbasi, Penerbit : Ar Risalah, hal. 385-391, cet. 1984 M.
[5] Sebagai contoh kami nukilkan di bawah ini kata-kata Musailamah Al Kadzdzab yang dianggapnya dapat menandingi sebagian ayat-ayat Al Qur’an :
يا ضفدع بنت ضفدعين، نقي ما تنقين، أعلاك في الماء وأسفلك في الطين
(Hai katak anak dari dua katak, bersihkanlah apa-apa yang akan engkau bersihkan, bahagian atas  engkau di air dan bahagian bawah engkau di tanah)
   Seorang sastrawan Arab yang bernama Al Jahiz telah memberikan penilaiannya atas gubahan Musailamah ini dalam bukunya yang bernama “Al Hayawan” sebagai berikut : “Saya tidak mengerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailamah menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Al Qur’an itu yang turun kepadanya sebagai wahyu”. (Al Qur’an Dan Terjemahannya, Departemen Agama R I, Penerbit : Gema Risalah Press, hal. 107).
[6] Al Israa’ [17] : 88.
[7] Manna’ Al Qaththan, Mabahis Fi Ulum Al Qur’an, Penerbit : Wahbah, hal. 72-74, cet. Ketujuh (1990 M).
[8] Yusuf [12] : 2.
[9] Dr Abdul Jalil Abdur Rahim, Lughah Al Qur’an, Penerbit : Ar Risalah Al Haditshah, hal. 8-10, cet. Pertama (1980 M).
[10] Lihat : ‘Aisyah Abdurrahman, Al I’jaz Al Bayani Fi Al Qur’an Wa Masail Nafi’ Bin Al Azraq, Penerbit : Al Ma’arif, hal.122, cet. 1971 M.
[11] Al Fatihah [1] : 5.
[12] Muslim bin Al Hajjaz, Shahih Muslim, Penerbit : Ihya At Turats Al ‘Arabi, No Hadits. 1038, cet. 1972 M.
[13] Lihat : Ali Imran [3] : 103.
[14] Dr. M Utsman Khaimar, Manhaj Al Qur’an Fi Tarbiyah Al Insan, Penerbit : Muassasah Al ‘Arabiyyah Al Haditsah, hal. 80.
[15] Lihat : Sa’id An Noursi, Al Maktubat, Tarjamah : Ihsan Qashim, Penerbit : Sozler, hal. 506-508, cet. Ketiga (1993 M).
[16] An Nur [24] : 41.
[17] Al Baqarah [2] : 223.
[18] Khalid Abdurrahman, Al Furqan Wal Qur’an, Penerbit : Al Hikmah, hal. 160-161, cet. Pertama (1994 M).
[19] Al Anbiya [21] : 46.
[20] Sa’id An Noursi, Al Kalimat, Tarjamah : Ihsan Qashim, Penerbit : Sozler, hal. 426-427, cet. Kedua (1992 M).
[21] Dr Musa’id Muslim, Atsar At Tathawwur Al Fikr Fi At Tafsir Fi Al ‘Ashr Al ‘Abbasi, hal. 388-389.
[22] Dr M Husain Adz Dzahabi, At Tafsir Wa Al Mufassirun, Penerbit : Wahbah, jilid. 1, hal. 326, cet. Keenam (1995 M).
[23] Dr M Husain Adz Dzahabi, At Tafsir Wa Al Mufassirun,, jilid. 1, hal. 440. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar