Rabu, 02 Oktober 2013

Dekonstruksi Tafsir Antroposentrisme (Telaah Ayat-Ayat Berwawasan Lingkungan)

Dekonstruksi Tafsir Antroposentrisme
(Telaah Ayat-Ayat Berwawasan Lingkungan)







Oleh:
Junaidi Abdillah[1]

Abstrak
Mainstream yang berkembang bahwa alam semesta ini disediakan oleh Tuhan hanya untuk kemakmuran manusia, membuat eksplorasi atas sumber daya alam ini makin brutal tak terkendali. Agama-agama samawi juga ditengarai kuat menanamkan  paham antroposentrisme pada pemeluknya. Sehingga, muncul pandangan bahwa penyebab kerusakan lingkungan dan alam tersebut diakibatkan paham antroposentrisme  tersebut. Islam sebagai salah satu agama samawi juga tidak luput dari tudingan tersebut. Karenanya, tulisan ini bermaksud membongkar paradigma tafsir bias antroposentisme dalam Islam. Dengan metode maudlu’i, penulis mengumpulkan dan mengelaborasi ayat-ayat berbasis ekologi. Pendekatan yang dipakai adalah bayani dan hermeneutika. Sedangkan content analysis sebagai pisau bedahnya. Tulisan ini bertujuan menemukan pesan-pesan tafsir berbasis lingkungan dalam perspektif ekologi Islam.

Kata Kunci: Lingkungan, Tafsir, Antroposentrisme, Ekologi.



Pendahuluan
Persoalan lingkungan menjadi tema menarik untuk selalu dikaji ketika kerusakan lingkungan hidup semakin memprihatinkan dari waktu ke waktu.[2] Fenomena longsor, banjir bandang, gempa bumi, kebakaran hutan seakan sudah menjadi rutinas musibah. Tak pelak, kajian lingkungan menjadi isu sentral. Namun seiring dengan meredupnya bencana tersebut maka redup pula isu tentang lingkungan. Sehingga kajian-kajian lingkungan seakan menjadi obat sementara bagi musibah-musibah tersebut. Namun akar permasalahan penyebab kerusakan lingkungan hidup tak pernah terurai guna dicarikan solusinya.
Manusia sebagai makhluk mandataris Allah SWT di bumi yang diberi kepercayaan (baca: amanah) untuk memelihara dan memakmurkan bumi nampaknya belum memberikan hasil yang terbaik. Khalifah fi al-Ardl yang dimaknai dengan manusia sebagai wakil Allah di planet bumi seharusnya menjadi titik tolak awal manusia dalam mengelola sekaligus memelihara alam ini. Namun realitas di lapangan justru mandataris ini digunakan dalam batas yang tidak wajar. Sehingga pada gilirannya kemudian manusia dengan dalih membangun bumi justru membuat kerusakan dahsyat bumi ini.
Akar permasalahan krisis lingkungan dan alam disinyalir berawal dari mengakarnya filsafat antroposontrisme dalam jiwa-jiwa manusia di bumi ini. Antoposentrisme[3] dimaknai sebagai teori etika lingkungan yang memandang pusat alam semesta adalah manusia. Sehingga kepentingan manusia paling menentukan dalam pengambilan kebijakan berkaitan dengan alam secara langsung atau tidak. [4]
Antroposentrisme diduga kuat berkar pada ajaran agama-agama monotheis termasuk Islam dituduh mengembangkan ajaran tersebut. Toynbee sebagaimana dikutip Martin Harun dalam pengantar buku Agama Ramah Lingkungan, menegaskan bahwa agama-agama monotheis telah menghilangkan rasa hormat terhadap alam yang Illahi. Sehingga tak ada lagi yang dapat menahan ketamakan manusia.[5] Islam sebagai salah satu agama monotheis tak luput dari tuduhan serupa. Akar tradisi yang sama yakni agama Ibrahim dan lahir di Timur Tengah mengakibatkan Islam sebagai suatu agama dianggap sama dengan tradisi Yudeo-Kristen dalam mengajarkan antroposentrisme.[6]
Berangkat dari tuduhan-tuduhan di atas, maka ada beberapa pertanyaan yang layak untuk dikaji dan dijawab dalam paper ini. Apakah benar Islam mengajarkan antroposentrisme? Bagaimana konsep ekologi[7] dalam Islam? Dan bagaimana pandangan Islam tentang hubungan manusia dengan alam dan lingkungan hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mendesak dicari jawabannya untuk kemudian ditemukan pesan-pesan ekologis Islam terkait dengan penanggulangan krisis lingkungan global.

Filsafat Antroposentrisme
Dilihat dari sejarahnya, kelahiran filsafat antroposentrisme berawal dari filsafat pelepasan manusia dari kungkungan Tuhan. Pada abad pertengahan tepatnya, alam pikiran dunia Barat dipenuhi dengan pikiran mitologis. Yakni berakar pada mitologi Yunani, saat itu Barat benar-benar terkungkung di dalam paham keagamaan bahwa seolah-olah Tuhan itu membelenggu manusia.
Paradigma tersebut mulai ditinggalkan dengan munculnya renaissance. Dan, muncul pemikiran bahwa manusia adalah pusat segala sesuatu. Tuhan dan dewa-dewa hanya dianggap sebagai mitos. Muncullah pandangan antroposentrisme yang muncul sebagai pendobrak pandangan keagamaan mitologi secara revolusioner. Pandangan antroposentrisme atau juga lazim dikenal dengan humanisme beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan, melainkan manusia. Manusialah penguasa realitas, yang menentukan nasibnya sendiri dan kebenaran. Karenanya, Tuhan dan kitab-kitab suci tidak diperlukan lagi. Antroposentrisme  sejatinya hadir dengan datangnya rasionalisme yang tidak lagi percaya lagi bahwa hukum alam bersifat mutlak.[8]
Konsep antroposentrisme adalah manusia merdeka dan menjadi pusat dari segala sesuatu. Namun kenyataannya, sekarang telah diturunkan derajatnya menjadi tak lebih sebagai bagian mesin, yakni mesin raksasa teknologi modern. Karena proses inilah, pandangan tentang manusia menjadi tereduksi. Manusia menjadi bagian poduksi teknologi modern. Ia hanya menjadi elemen mekanisasi dan elemen otomatisasi teknologi.[9] Dan paham antrposentrisme saat ini telah merambah ke dunia lingungan hidup. Karena itulah manusia modern menjadi terbelenggu oleh proses teknologi. Manusia teraleniasi dari kerja, hasil kerja sesame dan masyarakatnya.
Menurut Resmussen --sebagaimana dikutip oleh Mary Evelyn dan John A. Grim-- bahwa akar dari segala permasalahan lingkungan diduga berawal dari filsafat antroposentrisme.[10] Ia mendefinisikan antroposentrisme sebagai teori etika ligkungan yang memandang pusat alam semesta adalah manusia sehingga kepentingan manusia paling menentukan dalam pengambilan kebijakan berkaitan dengan alam secara langsung maupun tidak. Dalam kalimat Gregory Bateson, sebagaimana dikutip oleh Ramussen, diajukan sebagai berikut :
”....Dan bila Anda menyombongkan diri karena memiliki budi, Anda akan melihat dunia sekitar anda sebagai yang tak berbudi dan oleh karenanya tidak mempunyai hak pertimbangan etis. Lingkungan akan tampak menjadi milik anda untuk dieksploitasi. Unit kelangsungan hidup anda adalah diri Anda dan sesama atau rekan dengan kekhususan yang sama dengan anda berhadapan dengan lingkungan dari unit-unit social lain rasa-rasa dan binatang dan tumbuhan lain....”[11]
Antroposentrisme juga diduga kuat berakar kuat dari ajaran agama-agama monotheis, seperti dalam tradisi Yudeo-Kristen tampak pada kitab-kitab kejadian 1: 28
“Allah memberkati mereka (Adam dan Hawa) lalu Allah berfirman kepada mereka : beranak cuculah dan bertambah banyak, dan penuhilah bumi, dan taklukkanlah itu, dan berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Menurut Lynn White, sebagaimana dikutip oleh Martin Harun dalam pengantar buku Agama Ramah Lingkungan, menyebutkan akar permasalahan lingkungan dan alam terdapat pada ajaran Kristen. Lynn mengatakan dalam tulisannya dengan kalimat sebagai berikut:
”Manusia sedikit banyak berbagi terdalam transendensi Allah terhadap alam. Kekristenan, dalam kontres mutlak dengan agama kafir kuno dan agama-agama Asia. Tak hanya menciptakan dualisme manusia dan alam, tetapi juga menegaskan bahwa telah menjadi kehendak Allah manusia mengeruk (exploit) alam untuk tujuan manusia sendiri”.[12]

Lebih lanjut, menurut Mujiyono Abdillah bahwa konstruksi teologi lingkungan yang sudah populer dalam masyarakat disinyalir telah terkontaminasi oleh paham antroposentrisme. Paham antroposentrisme ditandai oleh melonjaknya kesadaran akan rasa percaya diri manusia untuk kuasa atas sumber daya alam dan lingukungan. Kesadaran demikian berkembang pesat karena manusia percaya dirinya sebagai makhluk istimewa dengan berbekal kemampuan rasionalnya. Paham antroposentrisme meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Bahwa sumber daya alam dan lingkungan ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Karenanya harus dieksploitasi demi kesejahteraan manusia.[13]
Antroposentrisme dalam dimensi kajian Islam diduga bersumber dari prinsip-prinsip dasar Islam yang berkaitan dengan konsep hakikat manusia sebagai makhluk istimewa (super being), manusia sebagai makhluk yang diberi akal (rasional), manusia makhluk yang paling kuasa atas alam (sukhriya’) dan konsep khalifah fi al-ardl.
Keempat prinsip dasar dan konsep hidup di atas menjadi simpul-simpul teologi yang bias antroposentris. Dengan demikian dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk terbaik karena dibekali akal. Manusia juga makhluk yang dinamis sedangkan makhluk lainnya statis. Dengan akalnya manusia dapat mengembangkan teknologi untuk menguasai sumber daya alam dan lingkungan bahkan menjelajah angkasa luar.[14] Filsafat antroposentrisme ini pulalah yang dituding melahirkan filsafat liberalisme dalam pengelolaan alam.
Bahkan racikan konsep maqashid al-syari’ah Syathibi diakui sarat dengan filsafat antroposentrisme. Menurut Syathibi, Allah menetapkan syari’at untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Pandangan antroposentrisme nampak sekali pada khamsah dlaruriyat: menjaga agama, akal, harta, jiwa dan kehormatan.[15] Semua dimensi yang lima tersebut hanya human oriented. Sementara kajian maslahat lingkungan belum tersentuh olehnya. Implikasinya, dalam segala aktivitasnya selalu berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Ayat-ayat Antroposentris
Terdapat ayat-ayat Alqur’an yang disinyalir mengandung nilai dan paham antroposentrisme. Pertama, adalah konsep manusia sebagai makhluk yang paling istimewa terdapat dalam surat al-Thin ayat 4: [16]لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلإِنسَانَ فِيۤ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ, ada juga terdapat dalam surat al-Isra ayat 70: وَلَقَد كَرَّمنَا بَنِي ادَمَ وَحَمَلنَاهُم فِي البَر وَالبَحرِ وَرَزَقنَاهُم منَ الطَّيبَاتِ وَفَضَّلنَاهُم عَلَى كَثِيرٍ ممَّن خَلَقنَا تَفضِيلاً[17]. Surat al-Infithar ayat 7-8: * ٱلَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ * فِيۤ أَى صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ[18], Surat al-Taghabun ayat 3: خَلَقَ ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ بِٱلْحَق وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ[19].
Kedua, Ayat-ayat yang menggambarkan manusia sebagai makhluk berakal. Terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 75: أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُواْ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ منْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ[20]. Surat al-Nahl 78: وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم من بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلْسَّمْعَ وَٱلأَبْصَارَ وَٱلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ[21]. Ada juga dalam surat al-Rum ayat 7: يَعْلَمُونَ ظَاهِراً منَ ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ. Dan masih banyak ayat lainnya yang berbicara bahwa manusia makhluk berakal. Di antaranya terdapat dalam QS. Al-Anfal: 21, QS. Al-Hajj: 46, QS. Al-Ra’d: 2, QS. Hud: 123. Dengan demikian, banyak yang beranggapan bahwa makhluk lainnya lebih rendah dari manusia karena tidak berakal.
Ketiga, ayat-ayat yang menggambarkan manusia sebagai paling kuasa atas sumber daya alam dan lingkungan. Sebab alam semesta ini diciptaka hanya untuk manusia. Terdapat dalam surat al-Baqarah: 22: ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلأَرْضَ فِرَاشاً وَٱلسَّمَاءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ ٱلثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ[22] . terdapat juga dalam ayat 29: هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الاَرضِ جَمِيعاً ثُمَّ استَوَى اِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُل شَيءٍ عَلِيمٌ[23]. Terdapat juga dalam surat al-Jatsiyah: 13: وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِي ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِي ٱلأَرْضِ جَمِيعاً منْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ[24], terdapat juga dalam surat Luqman: 20أَلَمْ تَرَوْاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِي ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِي ٱلأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً[25].
Keempat adalah ayat-ayat tentang kedudukan manusia sebagai manifestasi wakil Allah di bumi. Terdapat dalam surat al-Baqarah: 30:وَاِذ قَالَ رَبُّكَ لِلمَلاَئِكَةِ اِني جَاعِلٌ فِي الاَرضِ خَلِيفَةً قَالُوا اَتَجعَلُ فِيهَا مَن يُفسِدُ فِيهَا وَيَسفِكُ الدمَاءَ وَنَحنُ نُسَبحُ بِحَمدِكَ وَنُقَدسُ لَكَ[26]. Juga terdapat dalam surat al-An’am: 165وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُم خَلاَئِفَ الاَرضِ وَرَفَعَ بَعضَكُم فَوقَ بَعضٍ دَرَجَاتٍ ليَبلُوَكُم فِي مَا اتَاكُم اِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ العِقَابِ وَاِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيم[27]. Dalam QS. Shad: 26: يٰدَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي ٱلأَرْضِ فَٱحْكُمْ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَق وَلاَ تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ         [28].
Keempat dasar keagamaan di atas kemudian diduga melebur menjadi satu dalam bingkai teologi lingkungan yang ”terkesan” antroposentris. Gejala-gejala demikian nampak ketika dijumpai dalam kehidupan nyata akan perilaku masyarakat yang tidak mencerminkan perilaku ekologis. Mulai dari eksplorasi alam tanpa batas, boros energi, pencemaran dan sebagainya. Keyakinan antroposentris inilah yang sudah saatnya ditafsir ulang dan dibongkar dengan ayat-ayat ekologis. Berikut ini keempat prinsip dasar tersebut akan dibedah dengan pendekatan tanasubu al-ayat. Harapannya cara penafsiran atomistik dapat dihindari agar ditemukan maqashid Tuhan terkait pesan-pesan ekologis.
Pertama, terkait dengan konsep keistimewaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Konteks kesempurnaan dalam ayat-ayat di atas hanya dipahami sebatas kesempurnaan fisik. Dan, jaminan kesempurnaan manusia terwujud ketika dimensi spiritual dan amaliahnya terpenuhi. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir al-Qurthubi yang menjelaskan makna sebaik-baiknya bentuk ditafsiri dengan:

وقيل: المراد بالإنسان آدم وذريته. {فِيۤ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ} وهو اعتداله واستواء شبابه؛ كذا قال عامة المفسرين. وهو أحسن ما يكون؛ لأنه خلق كل شيء مُنْكَباً على وجهه، وخلقه هو مستوياً، وله لسان ذَلِق، ويد وأصابع يقبض بها. وقال أبو بكر بن طاهر: مزينا بالعقل، مؤدِّيا للأمر، مَهْديًّا بالتمييز، مديد القامة؛ يتناول مأكوله بيده[29]
Dengan demikian maka dimensi non-fisik justru lebih penting yaitu aspek keimanan (shaleh secara individual) dan aspek amal shalih (shaleh secara sosial). Tegasnya, manusia berpotensi menjadi lebih rendah ketika dua dimensi tersebut tidak tertampilkan dalam diri manusia. Sebagaimana dinyatakan dalam Surat al-Nahl ayat 97:  مَنْ عَمِلَ صَالِحاً من ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Ketika menafsiri ayat di atas Ibnu Katsir menjelaskan dengan kalimat:

هذا وعد من الله تعالى لمن عمل صالحاً وهو العمل المتابع لكتاب الله تعالى وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم من ذكر أو أنثى، من بني آدم وقلبه مؤمن بالله ورسوله، وأن هذا العمل المأمور به مشروع من عند الله بأن يحييه الله حياة طيبة في الدنيا، وأن يجزيه بأحسن ما عمله في الدار الآخرة، والحياة الطيبة تشمل وجوه الراحة من أي جهة كانت.[30]

Ayat di atas menegaskan ada tiga variabel dalam ayat tersebut terkait dengan kehidupan yang berkualitas. Yaitu: berbuat baik (amal shalih), religiusitas (al-iman) dan kehidupan yang berkualitas (hayatan thayyibatan). Ketiga variabel tersebut merupakan mata rantai yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Maka kehidupan berkualitas baik di dunia maupun di akhirat hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh. al-Qatthan memaknai amal shalih yaitu amal baik termasuk urusan-urusan kemasyarakat termasuk lingkungan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesempurnaan fisik manusia ditentukan kesempurnaan amal shaleh.
Dalam hubungannya dengan lingkungan alam, kesempurnaan manusia juga tidak menjadi variabel dominan dalam al-Qur’an. Manusia sejatinya hanya bagian kecil dari lingkungan alam ini. Keterbatasan kesempurnaan manusia ditegaskan Allah dalam surat al-Isra’ ayat 37-38: وَلاَ تَمْشِ فِي ٱلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولاً * كُلُّ ذٰلِكَ كَانَ سَيئُهُ عِنْدَ رَبكَ مَكْرُوهاً Dan juga terdapat dalam surat al-’Alaq 6-7: كَلاَّ إِنَّ ٱلإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ * أَن رَّآهُ ٱسْتَغْنَى. Dua ayat di atas mengisyaratkan kepada kita akan keterbatasan dan kekurangsempurnaan manusia terhadap alam ini. Dan, terkadang manusia juga kelewatan batas dalam mengelola alam ini. Dalam menafsiri ayat ini al-Qurthubi mengatakan:

{إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلأَرْضَ} يعني لن تتولّج باطنها فتعلم ما فيها {وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولاً} أي لن تساوي الجبال بطولك ولا تطاولك. ويقال: خرق الثوب أي شقه، وخرق الأرض قطعها. والخَرْق: الواسع من الأرض. أي لن تخرق الأرض بكبرك ومشيك عليها. {وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولاً} بعظمتك، أي بقدرتك لا تبلغ هذا المبلغ، بل أنت عبد ذليل، محاط بك من تحتك ومن فوقك، والمحاط محصور ضعيف؛ فلا يليق بك التكبر. والمراد بخرق الأرض هنا نقبها لا قطعها بالمسافة؛ والله أعلم[31]

Kutipan al-Qurthubi di atas jelas memposisikan kelemahan manusia di hadapan alam. Bumi dan gunung adalah bagian dari ekosistem yang tidak boleh dieksploitasi sesuai kemauan dan kesenangan manusia. Sebab dieksplorasi sekuat apapun, keduanya tidak akan --dengan penggunaan huruf lan-- mampu ditaklukkan oleh manusia.
Kedua,terkait dengan ayat-ayat yang mengedepankan keistimewaan akal manusia. Ayat-ayat di atas juga dituduh sebagai basis antroposentrisme dalam Islam. Benar bahwa akal adalah anugerah luar biasa yang membedakannya dengan makhluk lain. Dengan akal manusia diharapkan mampu mengelola alam dan lingkungan dengan baik. Karena sejatinya penciptaan manusia bermotif pemakmur atau pembangun bumi dan bukan untuk sebaliknya, merusak bumi ini. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat al-Hud ayat 61: هُوَ أَنشَأَكُمْ منَ ٱلأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا. Pesan ekologis dalam ayat di atas pada kalimat: وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا yang berarti memerintahkan manusia untuk memakmurkan bumi. Dalam hal ini Ibnu Katsir menafsiri ayat di atas dengan  pemahaman dan makna manusia untuk melaksanakan pembangunan dan mengelola bumi.[32]
 Lebih dari itu, menurut Harun Nasution akal manusia adalah pelengkap wahyu dan panca indera bagi manusia dalam memahami alam. Akal adalah pembantu wahyu Allah dalam memahami alam semesta dan lingkungan.[33] Alquran sendiri tidak menafikan peran pengamatan dan penalaran akal dalam memahami alam ini.[34] Namun demikian, dalam banyak variannya al-Qur’an juga mencela manusia ketika tidak mampu menggunakan akalnya dengan baik. Penggunaan akal dengan baik dalam konteks pemeliharaan lingkungan dan alam ini adalah mengetahui yang baik dan buruk dalam mengelola alam ini. Namun jika akal ini tidak digunakan sebagaimana mestinya maka posisi manusia sama bakan lebih rendan (hina) dari makhluk yang bernama binatang.[35]
Alquran juga banyak menyuruh kerja akal untuk memahami kerusakan lingkungan dan alam. Refleksi akal sangat ditekankan agar pembangunan di bumi ini berjalan secara berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dalam surat al-Rum ayat 9:

أَوَلَمْ يَسيرُواْ فِي ٱلأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوۤاْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُواْ ٱلأَرْضَ وَعَمَرُوهَآ أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَينَاتِ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوۤاْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ.

Terdapat juga dalam surat al-Jatsiyah ayat 13:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِي ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِي ٱلأَرْضِ جَمِيعاً منْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ .

Kata-kata kunci dalam dua ayat di atas adalah فَيَنظُرُوا dan يَتَفَكَّرُونَ yang menunjukkan urgensi akal manusia untuk memelihara alam dan menghindari dari kerusakan di bumi ini. Ayat di atas juga menegaskan bahwa manusia sebagai spesies yang berakal dan beragama wajib hukumnya memelihara lingkungan. Sebab pada kenyataannya manusia meruapakan makhluk lingkungan. Sehingga hubungan manusia dengan makhluk lain bersifat simbiosis mutual. Manusia membutuhkan lingkungan (spesies lain) dan sebaliknya, lingkungan membutuhkan manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sejatinya Islam adalah agama yang sangat peduli dengan persoalan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.
Ketiga, ayat-ayat berkaitan dengan konsep ”sukhriya” bahwa Allah menciptakan alam dan bumi hanya untuk manusia. Munculnya mainstream demikian karena memahami Alquran secara atomistik dan parsial. Jika dilacak lebih jauh, Allah menciptakan planet bumi dan lingkungan ini tidak hanya diperuntukkan bagi manusia. Melainkan seluruh makhluk Allah. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Rahman ayat 10: وَٱلأَرْضَ وَضَعَهَا لِلأَنَام. Kata الأنام dalam ayat ini ditafsiri oleh al-Syinqithi dengan al-khalqu yaitu semua ciptaan Allah (seluruh spesies), sedangkan menurut al-Qurthubi makna al-anam adalah كل ما دبّ على وجه الأرض، وهذا عام yaitu merayap yang hidup di atas bumi ini secara umum.
Telaah lebih dalam lagi, pada ayat-ayat sukhriya adalah dalam kata-kata لَكُمْ bahwa huruf lam di sini bermakna lam li al-tanfi’ yaitu hak manusia untuk memanfaatkan bumi ini. Dan, huruf lam tidak atau bukan bermakna lam li al-tamlik atau hak memiliki bumi. Sebab pada hakikatnya yang memiliki bumi dan alam semesta ini hanya Allah bukan manusia.
Manusia sebagai sesama ciptaan Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan besar yang bersifat kompleks dari sistem ekologi alam. Manusia bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida sehingga turut menjadi bagian dalam siklus oksigen di alam manusia makan dan membuang kotoran sisa hasil metabolismenya ke alam, sehingga turut menjadi bagian dari aliran energi di alam yang sumber utama dari energi matahari.Sebagaiamana ditegaskan dalam surat al-Ra’du ayat 4: وَفِى ٱلاْرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَـٰوِرٰتٌ ayat ini ditafsiri oleh Ibnu Katsir dengan ungkapan أي أراض يجاور بعضها بعضاً، مع أن هذه طيبة تنبت ما ينفع الناس وهذه سبخة مالحة لا تنبت شيئاً[36]،. Dalam bahasa yang lebih lugas, ayat di atas dapat dipahami dan dikatakan bahwa dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem sebagai penyangga kehidupan.
Keempat, terkait antroposentrisme dalam ayat-ayat manusia sebagai khalifah di bumi. Secara bahasa khalifah berarti orang yang datang (ada) belakangan yang menggantikan orang sebelumnya. Dalam hal ini Ibnu Ishaq --sebagaimana dijelaskan al-Thabari menafsiri khalifah dengan ungkapan:  ابن إسحاق: إنـي جاعِلٌ فـي الأرْضِ خَـلِـيفَةً يقول: ساكنا وعامرا يسكنها ويعمرها خـلقا لـيس منكم. Yakni berperan sebagai penduduk, pembangun bumi ini menggantikan peran iblis yang sebelumnya telah menempati bumi dan dibinasakan malaikat dan digantikan dengan Adam.[37] Dengan demikian jelas manusia sebagai khalifah bukanlah penguasa bumi, melainkan penerus yang secara fungsional untuk memelihara dan memakmurkan bumi ini.
Machasin dalam Aminah dkk menjelaskan secara ringkas khalifah adalah memegang amanat atau mandat.[38] Lebih lanjut dijelaskan kekhalifahan berarti berarti manusia menjadi memegang mandat Tuhan untuk menyelenggarakan kehidupan bertanggung jawab. Hakikat khalifah menurut al-Maududi ialah manusia bukan pemilik, apalagi penguasa, segala yang diatas bumi, namun hanya sebagai wakil dari sang pemilik sejati yaitu Allah.[39]
Sebagai khalifah, manusia diberi kelebihan dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Kelebihan utamanya adalah adanya kemampuan manusia untuk berfikir atau kepemilikn akal yang sempurna dibandingkan makhluk alinnya. Allah SWT telah mengajarkan pada Adam semua nama-nama sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat, sehingga malaikat pun bersedia bersujud kepada manusia, atas perintah Allah SWT, kecuali Iblis yang ingkar terhadap perintah-Nya.[40]
Kelebihan kedua adalah keberadaan kehendak bebas pada manusia. Dalam berbagai aliran teologi Islam konsep kebebasan kehendak ini telah menjadi pertentangan sengit antara kaum Qadariyyah dengan kaum Jabbariyah, di mana yang pertama mengakui adanya kebebasan kehendak manusia sedangkan yang kedua menafikannya. Meskipun begitu, Asy’ariyah berusaha mendamaikan dan mengatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan walaupun itu hanyalah suatu hiasan karena sebenarnya segalanya dari Tuhan. [41] Bagaimanapun juga, al-Qur’an telah menegaskan manusia diberi kebebasan untuk beriman atau kafir, dengan masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri.[42] Fazlur Rahman menambahkan, berbeda dengan alam semesta yang secara otomatis mentaati Allah SWT, manusia dapat memilih untuk taat atau ingkar kepada Allah SWT.[43]
Ibnu Arabi --sebagaimana disitir Chittick-- berangkat dari konsep yang sering disebut dengan konsep wahdat al-wujud, menafsirkan kalimat Allah SWT mengajarkan Adam semua nama-nama dengan pengertian bahwa manusia adalah manifestasi paling sempurna dari semua atribut-atribut Allah SWT. Setiap manusia secara individual dapat merefleksikan diri dari setiap atribut ke-Tuhan-an. Ciptaan lainnya di alam semesta sendiri hanya mampu mewujudkan setiap atribut tertentu saja. Karena itulah dalam alam semua ciptaan mempunyai keadaan yang bertingkat-tingkat sesuai dengan perwujudan atribut yang dipunyainya. Manusia adalah tingkatan tertinggi karena kemampuannya tersebut. Manusia walaupun dalam bentuk akhirnya stabil namun labil dalam batinnya sehingga manusia dapat mencapai berbagai tingkatan sepiritual. Manusia dapat lebih mulia dari malaikat, namun juga dapat jatuh ke tingkatan yang lebih rendah dari binatang ternak.[44]
Dalam pandangan dunia Ibnu Arabi, manusia dan mikrokosmos adalah serupa. Ibnu Arabi sering menyebutkan denga istilah dunia kecil (mikrokosmos) bagi manusia dan dunia besar (makrokosmos) bagi alam semesta. Istilah lain juga dipakaianya yaitu manusia kecil (mikroantropus) dan manusia besar (macroantopus). Mikrokosmos adalah sebuah kesadaran sedangkan makrokosmos hanyalah suatu intstrumen pasif dalam kuasa Tuhan. Dalam ilustrasi yang sangat indah, manusia bagi alam semesta ini adalah ibarat ruh bagi jasad manusia.[45] Dalam al-Futtuhat al-Makkiyah, sebagaimana dikutip Chittick, Ibnu Arabi menjelaskan dengan nada jelas :
“Bedakan dirimu sendiri dari kosmos dan bedakan kosmos dari dirimu. Bedakan yang lahir dan yang batin, dan yang batin dari yang lahir. Bagi kosmos kalian adalah ruh kosmos, dan kosmos adalah bentuk lahiriyah kalian. Bentuk ini yang tidak mempunyai makna apa pun tanpa ruh. Oleh sebab itu, kosmos tidak memiliki arti tanpa kalian.[46]

Sepenggal kalimat di atas menegaskan bahwa antara manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya dilkukiskan ibarat tubuh dan ruh yang saling melengkapi. Artinya jika ruh dalam tubuh manusia hilang maka rusak tubuh tersebut yang pada akhirnya akan rusak dan hancur pula jasad tersebut.
Analisa-analisa di atas akhirnya semakin meneguhkan bahwa sejatinya atroposentrisme tidak ditemukan apalagi diajarkan dalam Islam. Dalam ekologi Islam, justru menempatkan manusia secara proporsional. Meskipun manusia mempunyai kelebihan dibanding makhluk lain, keberadaannya masih menjadi bagian dari lingkungan dan bukan berada di luar ekosistem. Bahwa lingkungan alam ini diciptakan manusia bukanlah pandangan keliru. Namun manusia bukanlah pemilik alam ini. Dengan demikian manusia tidak boleh mengeksploitasi alam dengan seenaknya sendiri. Semua harus tetap mengacu pada kelestarian dan hak asasi lingkungan dengan tetap berbasis pada penalaran rasional ekologis manusia sebagai makhluk yang berakal.
Islam melarang keras paham antroposentrisme dalam pengelolaan lingkungan. Sebab antroposentrisme sejatinya identik dengan mental orang-orang paganis. Dan benih-benih antroposentrisme justru lahir dari orang-orang paganistis. Sebab dalam paham ini manusia meyakini hanya manusia lah yang paling berkuasa. Tidak ada kekuatan kecuali kekuatan manusia. Akibatnya timbul sikap manusia yang meremehkan dan merendahkan makhluk lain. Sikap dan mental paganistis yang antroposentris telah dikecam oleh Alquran dalam surat al-Baqarah ayat 6-12:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ. * خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ. * وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ * يُخَادِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ*فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ* وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي ٱلأَرْضِ قَالُوۤاْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ * أَلاۤ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لاَّ يَشْعُرُونَ.

Ayat ini mengisyaratkan korelasi kuat antara paganis, antroposentis dan kerusakan lingkungan. Indikator orang-orang pagan adalah keras kepala, keras hati, penuh kamuflase dan angkuh dalam pengelolaan lingkungan. Mereka selalu berdalih membangun bumi, padahal sejatinya mereka merusak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kerusakan alam yang parah saat ini akarnya bukan pada antroposentrisme Islam (theogenik), namun pada pola tingkah manusia yang kelewat batas (antrogenik).[47]

Ekologi Perspektif Islam
Menurut Chapman, dewasa ini semua agama: Islam, Kristen, Yahudi, Hindhu, Budha, Tao dan lain-lainnya, sejatinya telah menumbuhkan  kesadaran akan kearifan terhadap lingkungan hidup.[48] Dari sisi ajaran Islam misalnya, kita mengenal kearifan lingkungan dari konsep-konsep semisal tauhid, ihsan, syukr, khalifatullah fi-alrdl, amanah, akhirat, ihsan dan rahmatan li al-’alamin.
Tauhid merupakan pilar dan pijakan seluruh aktivitas manusia terhadap Tuhan dan alam. Tauhid dengan demikian mampu memancarkan peran khalifatullah fi al-ardl yang secara bertanggungjawab mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dengan baik dan seimbang. Eksplorasi alam ini tentunya sebagai manifestasi rasa syukur dan wujud belas kasih atau rahmatan li al-’alamin kepada alam lingkungan. Operasi dan implementasi tauhid, syukur dan khalifatullah dan sifat ramah lingkungan semuanya merupakan manifestasi sifat amanah dan sikap ihsan. Dengan demikian, perbuatan-perbuatan manusia akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat nanti (ini konsep eschathology).[49] Konsep-konsep di atas merupakan mata rantai aplikatif dan sebagi jawaban bahwa Islam sejatinya peduli terhadap lingkungan.
Lebih jauh, dua pemikir muslim modern, Sayyed Hossein Nasr dan Yusuf al-Qaradlawy juga mengurai konsep ihsan sebagai salah pilar Islam terhadap pemeliharaan lingkungan. Kata Qaradlawy, ihsan dapat dimaknai dalam dua pengertian: pertama, melindungi dan menjaga dengan sempurna. Kedua, bermakna memperhatikan, menyayangi, merawat dan menghormati.[50] Pandangan Qaradlawy menegaskan bahwa Islam peduli dengan lingkungan. Meski belum nampak teknik operasional bentuk konservasi lingkungan.
Sayyed Hossein Nasr juga menilai bahwa konsep ihsan dalam Islam. Menurut Nasr, ihsan melambangkan the beauty of human soul (keindahan jiwa manusia). Lebih detail Nasr menjelaskan: ”The person who has realized ihsan is fully aware of the centrality of the qualities of compassion and love, peace and beauty in the Islamic spiritual universe and is able to see written on the Divine Throne. (orang yang sadar akan ihsan sepenuhnya sadar akan makna penting sifat-sifat belas kasih dan cinta kasih, perdamaian dan keindahan dalam semesta spiritual Islam dan ia dapat melihat dengan mata batin akan ayat-ayat yang tertulis di dalam Tahta Ilahi). Nasr juga menguti hadits Qudsi yang berbunyi: inna rahmatiy taghlibu ghadlbiy (sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan siksa-Ku).[51] Pandangan al-Qaradlawi dan Nasr di atas menegaskan bahwa antroposentrisme dalam Islam sejatinya tidak ada dan tidak diajarkan.
Selanjutnya, embrio-embrio gagasan ekologis-teologis di atas, meskipun bersifat normatif, menurut hemat penulis, laik dan saatnya untuk dikembangkan dalam rangka menciptakan peradaban Islam yang ramah lingkungan. Dengan basis ekologis-normatif diharapkan lahir para intelektual dan manusia yang berwawasan lingkungan hidup. Fakta sejarah menampilkan, dengan basis syariah normatif mampu melahirkan manusia-manusia berkualitas pada abad pertengahan. Inilah yang oleh Nasr Hamid Abu Zaid diistilahkan dengan hadlarat al-nash (peradaban teks). Peradaban teks meskipun bernuansa apologis dan romantisisme sejarah, telah digunakan karakter bangsa Arab yang melalui ’peradaban teks’ yang hanya berbasis pada dimensi deduktif, platonik dan atomistik, faktanya mampu berkembang.[52] Berbeda dengan peradaban Barat yang berdimensi induktif, empirisme dan penelitian-penelitian ilmiah.
Namun demikian, peran teks-teks syariah dalam konservasi lingkungan tidak dapat dinafikan begitu saja. Ia berperan pada penguatan basis-basis intelektual dan spiritual. Sebab, menurut penulis konservasi lingkungan dan alam yang terlanjur rusak ini, tidak cukup diselesaikan dengan aktivitas-aktivitas fisik dan teknologi an sich. Melainkan dimensi yang tidak kalah penting adalah penguatan dimensi non-fisik yaitu spiritual dan intelektual yang berwawasan lingkungan hidup. Dengan demikian dekonstruksi tafsir ini diharapkan mampu memperkuat basis-basis tersebut.

Kesimpulan
Dari uraian dan analisis di atas dapat diambil kesimpulan-kesimpulan bahwa antroposentrisme sejatinya lahir bukan dari agama Islam. Pandangan antroposentrisme muncul disebabkan metode penafsiran yang parsial dan atomistik. Islam memandang manusia dengan lingkungan alam bersifat simbiosa mutual dan manusia secara fungsional merupakan makhluk pembangun (khalifah) yang amanah dan ber-ihsan. Konsep pembangunan Islam bersifat menyeluruh dan integral dengan tetap mengedepankan aspek kelestarian lingkungan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsep ekoteologi Islam adalah membangun bumi dan manusia dengan prinsip keseimbangan.


























Daftar Pustaka


Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Bumi Restu, 1976)
Abdillah, Mujiyono, Agama Ramah Lingkungan (Jakarta: Paramadina, 2001)
Abdullah, Mudhofir, Jurnal Ijtihad, dalam “Globalisasi dan krisis ekologi: Upaya konservasi dalam Perspektif Fikih Lingkungan, (Salatiga: STAIN Salatiga, 2010), vol. 10, Nomor 2.
Aminah, Wiwin Siti, Haryandi, dan Alfred Benedictus (ed). Sejarah Teologi, dan Etika Agama-agama. (Dalam Dian Interfidle, Yogyakarta, 2005)
Chapman, Audrey R. Peterson, et. al. (eds), Consumption, Population and Sustainability: Perspectives from Science and Religion (Washington DC: Island Press, 2000)
Chittick, William C., Dunia Imajinal Ibnu’Arabi; Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas Agama (Surabaya: Risalah Gusti, 2001)
Grim, John A. Dan Mary Evelyn (ed), Agama, Filsafat  dan Lingkungan Hidup (Yogyakarta: Kanisius, 2003)
Harun, Martin, Kata Pengantar; Agama Ramah Lingkungan, (Jakarta: Paramadina, 2001)
Katsir, Ibnu, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Jilid IV, (Beirut: Dar al-Fikr, 1992)
Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 156.
al-Mawdudi, Abu ’Ala, Khilafah dan Kerajaan; Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam (Bandung: Mizan,1994)
Abdillah, Mujiyono, Fikih Lingkungan; Panduan Spiritual Hidup Berwawasan Lingkungan (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005)
Nasr, Sayyed Hossein, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (New York: Harper Collins Publisher, Inc., 2002)
Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1998)
Nasution, Harun, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2000)
Purba, Jonny (ed.), Pengelolaan Lingkungan Sosial (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005)
Rahman, Fazlur, Islam, Terj. Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, 1996)
Ramussen,Kata Pengantar dalam Mary Evelyn dan John A. Grim (ed), Agama Filsafat dan Lingkungan Hidup, (Yogyakarta: Kanisius,  2003)
Shabecof, Philip,  A New Name for Peace; International Environmentalism, Sustanaible Development and Democracy (Hanover: University Press of New England, 1996)
al-Thabari, Abu Ja’far, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (t.t: Muasasah al-Risalah, 2000)
al-Qaradlawy, Yusuf, Islam Agama Ramah Lingkungan, terj. Abdullah Hakam Syah dkk. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002)
al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshari, , Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr al-‘Ilmiyah, 1992)
al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, ed. Khudari Husein, Jilid II (Beirut: Dar al-Fikr, 1341)
Soemarwoto, Otto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan,  (Jakarta: Djambatan, 1997)
Zaid, Nasr Hamid Abu, Mafhum al-Nash; Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Araby, 1994)

Internet

Enviromental Milestone oleh Wolrdwatch Institute dapat diakses pada alamat: http//www.worldwatch.org/brain/features/timeline/timeline.html. diunduh pada tanggal 20 Desember 2012.

Press release tentang laporan UNEP tahun 2002 (GEO 3) dapat dilihat pada alamat :
http//www/grid.enuep.ch/geo/press.html.












[1] Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung.
[2]Kerusakan lingkungan di berbagai belahan bumi telah sampai pada tahapan yang menghawatirkan. Enviromental  yang dikeluarkan Worldwatch Institute (2004), menyebutkan bahwa pada 1999 lubang ozon  di atas antartika telah mencapai 25 juta kilometer persegi. Luas yang hampir sama dengan Amerika Serikat, China dan India digabung menjadi satu. Lebih lanjut laporan tersebut, dengan mengutip data PBB tahun 2001, menyebutkan negara-negara tropis telah kehilangan hutannya lebih dari 15 juta hektar tiap tahunnya. Tahun 2003 disebutkan bahwa 90 persen ikan-ikan yang bernilai ekonomis telah dibunuh oleh industri perikanan. Di sisi lain, jurang kesenjangan penguasaan sumber daya alam antara mereka yang mampu dengan yang tidak semakin menganga lebar. Trcatat dalam laporan unep (2002) seperlima penduduk dunia menghabiskan 90% dari total konsumsi perorangan global. Sisanya, yang mencakup sekitar 4 miliyar jiwa, hanya mampu bertahan dengan tingkat pendapatan antara $ 1 hingga $ 2 setiap harinya. Kurang labih 1,1 milyar penduduk bumi masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan 2,4 miliar jiwa kesulitan mengakses sarana sanitasi yang sehat. Kebanyakan dari mereka tinggal di kawasan Asia dan Afrika. Lihat dalam Enviromental Milestone oleh Wolrdwatch Institute. Tentang h ini dapat diakses pada alamat: http//www.worldwatch.org/brain/features/timeline/timeline.html. diunduh pada tanggal 20 Desember 2012.
[3] Menurut Mujiyono Abdillah, dalam kajian teologi lingkungan Islam, terkait dengan hubungan manusia dengan alam, paling tida ada tiga pola hubungan: pancosmisme, antroposentrisme dan holisme. Dari ketiga paham tersebut terakhir, holisme-lah yang direkomendasikan untuk ditumbuhkembangkan. Sedangkan yang pertama dan kedua ditinggalkan jauh-jauh. Lihat dalam Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan, Jakarta: Paramadina, 2001, h. 150.
[4] Menurut Shabecoff, kerusakan lingkungan merupakan cerminan krisis intelektual dan spiritual. Kaum intelektual Barat telah melakukan kritik atas filsafat sekuler yang antroposentris yang memisahkan manusia dari kesakralan alam. Para pengkritik tajam di antaranya:  John Muir, Rosevelt Arne Naess, Lynn White, Felix Guattari dll. Lihat dalam Philip Shabecoff, A New Name for Peace; International Environmentalism, Sustanaible Development and Democracy, Hanover: University Press of New England, 1996, h. 221.
[5] Martin Harun, Kata Pengantar; Agama Ramah Lingkungan, Jakarta: Paramadina, 2001, h. xv
[6] John A. Grim (ed), Agama, Filsafat  dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2003,  h.100
[7] Kata ekologi pertama kali diperkenalkan sebagai suatu istilah tersendiri oleh Ernest Hauckel. Kata ini berasal dari istilah Yunani oikos yang bermakna rumah atau tempat tinggal dan logos yang kerap diartikan sebagai ilmu. Secara harfiah, kata ilmu sebagai studi tentang organisme-organisme dalam tempat tinggalnya. Selanjutnya Otto Soemarwoto dengan mengambil kias dari ekonomi, menyebut ekologi sebagai ilmu tentang rumah tangga mahluk hidup. Oxford Advenced Learners Dictionary (1995: 367) menyebutkan bahwa ekologi sebagai suatu studi tentang hubungan antara tumbuhan dan makhluk hidup lainnya antara satu sama lain dan dengan lingkungannya. Lihat dalam Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan,  (Jakarta: Djambatan, 1997) h. 22. Lebih jauh Capra menyebutkan prinsip-prinsip utama dalam ekologi adalah jaringan, siklus, energi, matahari, kemitraan, keragaman, dan keseimbangan dinamistik. Jaringan dapat ditemukan pada semua skala alam di mana segala sistem saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya yang ada tanpa memperhatikan batas-batas mereka yang lebih bersifat sebagai identitas dan bukan sebagai pemisah (Jonny Purba, Pengelolaan Lingkungan Sosial, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, h. 10-12.
[8] Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1998), h. 156. Selanjutnya Kuntowijoyo memandang bahwa antroposentrisme merupakan cikal bakal dan refleksi budaya Barat. Dan, akhirnya menyebar bak ibarat virus ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Lihat uraian lengkapnya pada haman 159-161.
[9] Ibid., h. 162.
[10] Mary Evelyn dan John A. Grim (ed), Agama Filsafat dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius,  2003, h. 217-219.
[11] Ramussen,Kata Pengantar dalam Mary Evelyn dan John A. Grim (ed), Agama Filsafat dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius,  2003, h. 220.
[12] Martin Harun, Kata Pengantar Agama Ramah Lingkungan, dalam Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan, Jakarta: Paramadina, 2001, h. xix-xx.
[13] Mujiyono Abdillah, Fikih Lingkungan; Panduan Spiritual Hidup Berwawasan Lingkungan, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005, h. 34.
[14]  Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan, Jakarta: Paramadina, 2001, h. 11-13.
[15] al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah, ed. Khudari Husein, Jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, 1341, h. 3 dst.
[16] Artinya: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
[17] Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
[18] Artinya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu.
[19] Artinya: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya lah kembali (mu).
[20] Artinya: “apakah kamu masih mengharap mereka akan percaya kepadamu, padah segolongan dari mereka mendengar firman allah lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.
[21] Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.
[22] Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu”.
[23] Artinya: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
[24] Artinya: “dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.
[25] Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin”.
[26] Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang “khifah” di muka bumi. Mereka berkata: mengapa Engkau hendak menjadikan khifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padah kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau”…
[27] Artinya: “dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagaian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa-yang diberikan-Nya kepadamu.Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[28] Artinya: “wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu penguasa di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.
[29] Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr al-‘Ilmiyah, 1992, Jilid 8. h. 113.
[30] Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Jilid IV, Beirut: Dar al-Fikr, 1992, h 516.
[31] al-Qurthubi, Jami’ li Ahkam al-Qur’an..., juz 5, h. 260.
[32] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Jilid II, (Beirut: Dar al-Fikr, 1992, h. 548.
[33] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: UI Press, 1998,  h. 23.
[34] Lihat QS al-Nahl ayat 78, al-Dzariyat 49, al-Ruum ayat 7, al-Anfal ayat 21, al-Hajj ayat 46, al-Ra’du ayat 2, al-Haqqah ayat 38-39 dan Hud ayat 123.
[35] Lihat QS al-‘Araf ayat 179 dan surat al-Furqan ayat 44.
[36] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, op. cit., Juz 6, h. 369.
[37] Dalam kitab al-Thabari diurai detail tentang pengutusan Adam di bumi dalam menggantikan posisi Iblis yang merusak bumi dan menumpahkan darahnya. Jadi khifah dalam konteks ini dimaknai Adam adalah yang menggantikan (khifah) datang berikutnya setelah iblis binasa. Lihat dalam tafsir karya Abu Ja’far al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, t.t: Muasasah al-Risalah, 2000, jilid 1, h. 449-450.
[38] Wiwin Siti Aminah, Haryandi, dan Alfred Benedictus (ed). Sejarah Teologi, dan Etika Agama-agama, Yogyakarta: Dian Interfidle, 2005, h. 164-165.
[39] Abu ’Ala al-Mawdudi, Khilafah dan Kerajaan; Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam, Bandung: Mizan,1994, h. 64.
[40] Lihat QS. Al-Baqarah ayat 31-34.
[41] Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2000, h. 103-117.
[42] Lihat QS 35: 39.
[43] Fazlu Rahman, Islam, Terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Pustaka, 1996, h. 95.
[44] William C. Chittick, Dunia Imajinal Ibnu’Arabi; Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas Agama, Surabaya: Risalah Gusti, 2001, h. 56-57.
[45] Ibid., h. 60
[46] Ibid., h. 61
[47] Lihat lebih detail pada ayat-ayat lainnya yang menggambarkan bahwa kerusakan lingkungan bumi ini karena ulah tangan manusia. Banyak ayat yang menjelaskan tema-tema kerusakan lingkungan karena dominasi manusia atas ala mini. Lihat QS al-Rum: 9, QS al-Rum: 41, QS. Al-Nahl ayat 33, al-Ankabut: 31 dan QS Hud ayat 117.
[48] Audrey R. Peterson Chapman, et. Al. (eds), Consumption, Population and Sustainability: Perspectives from Science and Religion (Washington DC: Island Press, 2000) h. 1
[49] Mudhofir Abdullah, Jurnal Ijtihad, dalam “Globalisasi dan krisis ekologi: Upaya konservasi dalam Perspektif Fikih Lingkungan, (Salatiga: STAIN Salatiga, 2010), vol. 10, Nomor 2, h. 160
[50] Yusuf al-Qaradlawy, Islam Agama Ramah Lingkungan, terj. Abdullah Hakam Syah dkk., Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002, h. 184
[51]  Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity, New York: Harper Collins Publisher, Inc., 2002, h. 236.
[52] Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum al-Nash; Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Araby, 1994, h. 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar